Granfondo New York di LOMBOK

Sukses Gowes nanjak Lombok

Bertepatan dengan acara latihan “Granfondo New York di LOMBOK” komunitas WSKT mencoba menelusuri sisi pantai Senggigi Lombok untuk merasakan tanjakan mautnya. Memang tidak segarang tanjakan Sigar Bencah Semarang yang rimbun oleh pepohonan dan curam, tapi tanjakan Nipah Lombok juga menantang dan panasnya “minta ampun”. Dimulai dari rute datar dari Hotel De’Praya sampai kota Mataram, rute masih datar dan semua peserta bisa melaju dengan santai dan bersemangat.

“Pak Eko, kalau begini terus bisa lanjut sampai Bali nih:-)”, gurau salah satu peserta. Aku hanya tersenyum sambil berpikir, pasti dia akan berpendapat lain setelah melewati tanjakan panas di tepi pantai Senggigi.

EO acara ini memang sangat sabar membawa peserta yang beraneka ragam. Mereka dikelompokan menjadi tiga kelas, mulai dari kelompok yang tidak jelas gaya bersepedanya maupun kemampuannya, kemudian yang menengah kemampuannya dan terakhir yang sudah biasa bersepeda rute menanjak.

EO gowes yang ramah dan santai

EO gowes yang ramah dan santai

Pada etape awal sampai pos I di Km 18, Bundaran Patung Sapi, terlihat 3 (tiga) kelompok ini saling sapa dan saling beradu cepat di sepanjang rute. Boleh dibilang jalan dominan menurun dan sangat nyaman dinikmati sebagai “sarapan” pagi, setelah semua kelompok senam di hotel sebelum berangkat. Pada etape pertama ini aku kehilangan pak Dono Parwoto (DoPar) yang kutempatkan di kelompok I, yang harusnya merupakan kelompok paling cepat. Belakangan baru aku tahu, sepedanya bermasalah pada remnya.

Pak Dopar yang remnya bermasalah

Pak Dopar yang remnya bermasalah

Etape selanjutnya menuju kota Mataram. Kelompok yang tidak jelas kemampuannya sudah mulai tercecer di belakang. Rute menuju Mataram dilewatkan Ampenan yang mulus dan tanpa rintangan. Dua kelompok yang masih berada di depan masih bercampur antara yang biasa gowes dan yang kelas menengah.

Disinilah EO sangat berperan meredam emosi semua kelompok. Jalur jalan ditutup oleh barisan EO dengan kecepatan menengah dan stabil. Tidak ada peserta yang bisa nyelonong mendahului EO, semuanya di belakang dengan kecepatan yang sama.

“Mendahului EO akan didenda !”

Kalimat itu yang menjadi guyonan peserta dan nyatanya memang tidak ada yang menyerobot mendahului. Pada komunitas WSKT, yang biasanya ada beberapa oknum nakal suka, mati kutu kehabisan akal. Mereka terpaksa tunduk pada komando EO, tidak seperti ketika dipandu oleh mobil polisi jalan raya (PJR) yang bisa disundul-sundul di acara gowes PPTR minggu lalu.

Memasuki Taman Sangkareang Mataram, kulihat pak Tri Hartanto (TH) bermandi keringat masuk pos II. Rupanya  ban dalam sepedanya perlu diganti dan menempuh etape II dengan MTB. Melihat kondisi ini pak Mitrabani (MBR) langsung mengeluarkan serep ban dalam dan menyerahkannya pada tim mekanik EO.

“Untung ada dewa penolong membawa ban dalam Bike Friday (BF)”

Memang komunitas BF di WSKT sengaja ingin menaklukkan Lombok dengan sepeda lipatnya. Kalau melahap rute tanjakan dengan sepeda carbon rasanya sudah biasa, jadi mencari sensasi beru dengan melahapnya dengan BF, persis sama ketika aku mengayuh sepeda BF kuning waktu baru saja kemuliki di tanjakan Gombel Semarang.

Usai istirahat di pos II, maka EO mulai menjelaskan rute yang “sebenarnya”. Pesertapun mulai makin terkelompokkan. Peserta ber”bike tag” ungu, terlihat tetap tegar di paling depan dan peserta dengan “bike tag” putih serta abu-abu mulai tertinggal. Pada beberapa kali regrouping terlihat beberapa peserta mulai bercucuran keringat dan mulai tersenyum tapi dengan wajah yang mulai memerah.

Pak Masudi Jauhari (MJ), seperti biasa tetap dengan guyonannya. Memulai dari paling belakang dan tetap sampai pos regrouping paling depan. Pak Herwidiakto (HW), sang raja jalanan, kali ini juga mulai terlihat kepayahan, meskipun senyum tetap terpancar dari wajahnya yang tetap ceria.

Lebih cepat dua jam dari rencana, akhirnya semua peserta masuk finish di teluk Nipah. Semua puas dengan rute yang sangat menantang menjelang finish. Dua tanjakan terberat dilaui dengan sukses, meskipun beberapa peserta terpaksa menuntun sepedanya.

“Kegiatan bersepeda ini hanya menempuh rute Granfondo New York di LOMBOK, tapi tidak harus memaksakan diri menjjadi PRO dalam sehari. Jaga kesehatan dan jangan memaksakan diri untuk melahap tanjakan”, kataku menghibur diri sendiri.

Aku memang tidak membawa sepedaku ke Lombok, mas Ritfan telah berbaik hati meminjamkan Xtrada 4.0 sebagai tungganganku menyelesaikan rute Lombok. Setelah Gombel, Sigar Bencah dan rute tanjakan yang lain, memang rute ini merupakan pembuktian diriku pada diriku sendiri. Setelah jatuh sakit, beberapa bulan lau, aku memang baru mulai bersepeda lagi untuk mendapat Granfondo. Setelah lulus GF 100 Gajah Mungkur, maka targetku memang lulus tanjakan Lombok tanpa nuntun. Alhamdulillah semua sukses kujalani, meskipun aku langsung cek kondisi tubuh ke tim medis yang setia mengikutiku.

Cek kondisi kesehatan di Tim Medis

Cek kondisi kesehatan di Tim Medis

 

“Sukses pak!”, ucap tim medis di depan istriku.

Sungguh tim regional timur telah sukses menyelenggarakan acara bersama EO “Integrity”, sukses dan terima kasih buat penyelenggara. Salam Gowes dari @pitDjoga 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s