Gowes Samara

Blusukan di pematang sawah

Ikut gowes mencari Granfondo (GF) dari Strava merupakan suatu acara yang memberi tantangan tersendiri, apalagi kalau mencari KOM (King of Mountain) dan sukses mendapat KOM di berbagai segment, wow pasti “sesuatu” banget. Ada beberapa goweser yang tidak tahan godaannya dan melakukan berbagai cara agar mempunyai KOM, termasuk aku, namun kali ini rasanya tantangan gowesku justru makin tidak populer di kalangan “mainstream”, aku menyebutnya dengan nama “Gowes Samara”.

Tidak perlu jauh-jauh dari rumah dan tidak perlu berjam-jam melakukan Gowes Samara, cukup denghan kecepatan di atas 10 km/jam dan di bawah 20 km/jam dengan waktu minimal 30 menit saja, sudah memadai untuk gowes samara. Yang penting dalam gowes ini, emosi harus diredam dan biarkan kaki mengayuh mengikuti kayuhan pasangan Samara kita.

Gowes samara dalam Garmin

Gowes samara dalam Garmin

Pertama ikut kegiatan ini, capeknya boleh dibilang sangat menjengkelkan, apalagi kalau pakai RB (roadbike carbon), rasanya peingin mancal sekuatnya dan melepas emosi yang teredam dalam dada ini. Akibatnya gowes jadi kehilangan ruhnya, tidak bisa tersenyum seperti biasanya dan sering jengkel merasakan kayuhan pasangan yang ala kadarnya (dari kaca mata kita), padahal bagi pasangan kita, rute gowes kali ini amat sangat menantang.

Setelah berlatih cukup lama, akhirnya aku mulai merasakan nikmatnya gowes samara. Penuh senyum, canda dan tawa renyah. Apalagi ketika mulai melalui tanjakan “ekstrem” dan tiba-tiba, tertawa bisa lepas ketika berhasil nuntun sampai di puncaknya.

Tanjakan kagetan di desa

Tanjakan kagetan di desa

Bagi goweser yang sudah punya puluhan GF, tentu tanjakan ini tidak ada nilai “kemringet”, tapi bagi goweser pemula yang namanya tanjakan adalah suatu momok tersendiri. Begitu aku lihat sepeda yang dipakai untuk nanjak, ternyata posisi “gear” memang terpasang pada posisi jalan datar, jadi bagi pemula tentu akan kesulitan menanjak dengan posisi gear seperti ini, Tidak ada kamus ganti posisi “gear” pada waktu menanjak, maklum saja kalau kayuhan jadi terasa berat.

Gowes blusukan juga sangat terasa nikmatnya di hati, menuntun sepeda tidak hanya di pematang sawah, tapi juga di parit, karena hanya jalan itu yang mungkin dilewati. Daripada dipanggul lebih baik dituntun sepanjang parit.

Gowes Samara, kalau dilakukan pasutri muda mungkin biasa-biasa saja, tapi kalau dilakukan oleh pasutri dewasa (maksudnya “tua”), maka rasanya lebih “maknyus” deh. Kita jadi merasa muda kembali, keceriaan waktu muda terulang lagi, seperti pacaran genre terkini dalam wujud lain. Kita bisa menikmati tawa pasangan kita, seolah-olah baru pacaran dengan gadis remaja, sampai kerumunan orang yang melihat kita jadi malu sendiri.

Pura-pura tersesat di pematang sawah atau di kerimbunan pohon dan tertawa bersama menikmati kekonyolan kita itu memang terasa “sesuatu” banget. Melihat strava dari teman-teman yang puluhan bahkan ratusan km sudah tidak menantang lagi. Lebih menantang ketika bertemu simbok-simbok di jalan yang gowes santai, padahal yang dibawa gowes begitu banyak barang barang, sehingga rawan terjadi kecelakaan. Apalagi simboknya tidak pakai helm !

Ditinggal di hutan pinggir sawah

Ditinggal di hutan pinggir sawah

Kawan lamaku yang lama tidak berjumpa, ketika bertemu denganku bertanya padaku soal olah ragaku,”Masih gowes ?”

Akupun mengangguk, sementara dia terus melanjutkan ucapannya,”aku sudah ganti kegiatan olah raga, tahun ini aku harus masuk half marathon seri dunia”

Aku hanya tertawa saja, sambil ingat ketika aku juga masih suka olah raga jalan sebagai selingan bersepeda. Memang trend dari teman-temanku sudah banyak yang beralih ke jalan kaki sampai marathon. Strava mereka sudah mulai dihiasi olah raga kaki, jalan atau lari. Mungkin beberapa kita memang sudah jenuh dengan kegiatan bersepeda, jadi perlu selingan olah raga lain yang tidak hanya memakai sepeda, mereka mulai berpikir triatlon, sepeda, lari dan renang !

Blusukan di pematang sawah

Blusukan di pematang sawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s