Gowes Toba penuh damai

jelang Finish siantar-toba-via-sidamanik

Gowes Toba sudah berakhir, para peserta juga sudah kembali ke daerah masing-masing dengan membawa memori manis dari Kebun Teh Sidamanik yang asri nan sejuk. Tanjakan yang tak kunjung henti sudah mereka lupakan, pasar “tiban” yang memacetkan rute gowes sudah dilupakan, pegal-pegal di seluruh tubuh sudah mereka lupakan, hanya canda tawa masih jadi pembicaraan mereka. Inilah “Gowes Toba penuh damai” yang melibatkan banyak peserta dari berbagai penjuru proyek Waskita.

Ada mas Sutiono, mantan atlit internasional, yang ikut turun ke lapangan untuk ikut mengawasi jalannya acara “Gowes Toba penuh damai”. Beberapa atlit sepeda Sumut turut diajak Sutiono untuk berbaur dengan peserta, sehingga suasana makin meriah. Disamping Sutiono yang hanya turun di lapangan tanpa sepeda, mas Fanny Gunawan, juga mantan atlit yang pernah mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai kejuaraan internasional, ikut terjun langsung dengan sepeda balapnya memimpin Goweser dari WSKT Waskita.

bersama Dirut WTR dan Fanny Gunawan

diapt Dirut WTR dan Fanny Gunawan

Banyak peserta yang merasa terkecoh dengan publikasi acara, sehingga semuanya merasa rute tidak sesuai dengan yang mereka perkirakan. Ada yang baru di awal rute sudah menyerah, padahal belum sampai pos pemberhentian pertama untuk merapikan barisan. Ada juga yang karena merasa pemberhentian di pos pertama terlalu dekat, langsung mengayuh sepedanya menuju pos selanjutnya. Akibatnya jarak rombongan pesepeda depan dan belakang menjadi sangat jauh.

Keindahan kebun teh Sidamanik yang begitu memukau, serasa melihat Wallpaper di windows, sudah tak dihiraukan oleh pesepeda pemula. Mereka fokus pada tanjakan yang serasa tidak pernah berhenti. Dalam publikasi acara, memang kusebutkan bahwa rute kali ini akan menempuh rute menanjak tanpa henti sejauh 35 km. Mereka mengeluh karena ternyata setelah 35 km masih ketemu lagi dengan tanjakan yang lebih curam.

Safety bike

Safety bike

Sebenarnya kalau ditulis lengkap publikasi acara adalah “35 km menempuh rute jalan menanjak tanpa turunan, setelah itu sampai finish berupa rute rolling, jalan naik turun dengan lebih banyak naik”. Bagitu seharusnya yang kutulis, tapi karena kepanjangan, jadi hanya penggalan di depan yang kutulis. Akibatnya, banyak peserta amatir yang belum pernah ikut gowes jarak jauh mendaftar ke panitia.

jelang Finish siantar-toba-via-sidamanik

jelang Finish siantar-toba-via-sidamanik

“Mas Eko, publikasinya kurang lengkap nih. Jadi banyak yang merasa terkecoh!”

“……”

“… tapi dengan begini jadi banyak yang ikut dan ternyata terasa asyik!”

Sebagai anggota tim penyapu, aku benar-benar ikut menikmati suasana galau di rombongan paling belakang. Melihat bagaimana mereka satu demi satu berguguran dan “loading” dengan kendaraan apa saja yang dekat dengan mereka. Ada satu orang yang nekad memebawa sepedanya di dalam ambulan, mungkin karena badan sudah terlalu capai sehingga sudah tidak peduli lagi dengan situasi di sekeliling dan ingin naik sepeda lagi kalau sudah menjelang finish.

Untungnya semua peserta yang loading terpantau semua oleh grup tim penyapu, sehingga tidak adalagi yang terpaksa ditunggu sampai bubar dan ternyata yang ditunggu sudah “loading” sampai finish, seperti yang terjadi dalam acara Gowes Bandung Jakarta Harbak PU kemarin.

Acara “Gowes Toba penuh damai” ini memang tidak ada panitia resmi, hanya ada koordinator masing-masing seksi. Semua peserta datang dengan memesan tiket sendiri, membawa sepeda sendiri dan panitia hanya membantu memesankan kamar, memesankan tiket naik kapal dan semacamnya. Akibatnya jadwal kepulangan dan keberangkatan masing-masing peserta benar-benar bervariasi, apalagi pas bertepatan dengan libur panjang, sehingga mencari tiket menjadi suatu pengalaman sendiri.

Memang acara “Gowes Toba penuh damai” ini benar-benar memuaskan peserta dari sisi model rute maupun pemandangan alam Simalungun dengan kebun tehnya yang begitu indah. Tahun depan beberapa peserta sudah mulai bertanya tentang rute yang akan datang. Yang saat ini digagas adalah mengajak lebih banyak lagi peserta dengan rute kota-kota, lebih dekat jaraknya dan lebih ramah jalannya. Kami menyebutnya dengan “Gowes Ceria 56 tahun Waskita”

Gowes Ceria 56-tahun-waskita-2017

Gowes Ceria 56-tahun-waskita-2017

3 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s