Gowes Rabu rutin

Sarung tangan baru yang gagal kupakai

Sudah menjadi kegiatan komunitas WSKT se-Indonesia untuk selalu mengadakan acara rutin, minimal tiap Rabu danJumat plus bonus Sabtu atau Minggu, Kali ini, di WA group WSKT, sebagian anggota sudah sepakat untuk mengganti acara Gowes Rabu rutin dengan kegiatan yang berbeda, yaitu hanya kegiatan akhirnya saja alias Kuliner sarapan bersama. Akupun segera melepas kostum sepedaan dan langsung ganti kostum dinas harian dan menuju kantor, menunggu jam sarapan di warung nasi Pak No.

Warung pak No memang sudah puluhan tahun mengikuti kemana kantor Waskita berada, bahkan sebelum aku masuk Waskita, saat masih di Hang Tuah warung Pak No sudah eksis. Banyak petinggi Waskita yang sudah merasakan duduk di warung ini, bahkan salah satu Dirut terlama Waskita, mengabadikan dalam obrolan rutin setiap majalah Waskita terbit.

Acara sepedaan di saat hujan, memang ada heroiknya, ada petualangan yang tersendiri, tetapi aku memang menghindari acara sepedaan yang sebelum berangkat sudah hujan. Akan lain bedanya kalau sudah bersepeda, kemudian di tengah jalan hujan turun. Aku akan tetap bisa menikmatinya, tetap menembus hujan sampai di finish dan merasakan makan di finish dengan suasana yang “indah”. Seperti ketika aku gowes Gondang Solo, pas nanjak dan pas hampir finish, hujan turun dengan cukup lebat. Hujan makin lebat, ketika sampai finish, sehingga semua pakaianku basah kuyup dan aku tidak sempat menikmati sajian Band Didi Kempot, aku langsung meluncur ke Jogja.

Gowes hujan, sering dialami oleh para goweser, terutama para goweser jarak jauh. Lebih baik meneruskan bersepeda dari pada berhenti dan menunggu reda, sementara perjalanan masih jauh. Beda dengan gowes kota-kota yang dekat rumah, tidak ada ruginya kalau berteduh sebentar menikmati turunnya hujan dan pulang dalam kondisi tidak terlalu basah, baik badan maupun semua yang melekat di tubuh, baik pakaian maupun sepatu. Paling enak kalau pas jalan becek memakai sepeda Polygon Path, semotif dengan Heist tapi sudah terpasang pelindung roda (depan belakang) agar air tidak muncrat ke baju dan ada goncengan di belakang 🙂

Polygon Path 9 dengan fork rigid

Polygon Path 9 dengan fork rigid

Gowes Rabu rutin kali ini aku sudah memutuskan untuk tidak ikut dan hanya ikut acara sarapan saja di warung nasi pakNo. Saat komunitas WSKT berdiri, beberapa tahun lalu, aku dan kawanku begitu demam Gowes, sampai-sampai kehabisan “sesuatu” yang akan dibeli. Baju sepeda, model jersey sepeda, yang berfungsi sebagai jas hujan maupun yang sekedar penahan angin, sudah beberapa kali dibeli kawan-kawanku termasuk aku. Harga yang model anti hujan, bisa berlipat-lipat dari harga jersey yang umum dipakai, biasanya sekitar 1,5 sampai 2 juta.

Banyak teman yang bertanya tentang manfaat Gowes Rabu Rutin dan kemudian bertanya mengenai harga pakaian anti hujan yang kupakai dan kemudian banyak juga yang tertarik untuk membelinya. Sementara punyaku sendiri sekarang malah jarang kupakai, kadang hanya kubawa tapi ketika gerimis tetap tersimpan dalam tas, sampai akhirnya tidak kupakai lagi. Saat ini kalau hujan aku lebih memilih tidak bersepeda daripada berhujan-hujan dan pulang dalam keadaan kotor, harus mencuci seopeda, pakaian plus sepatu.

Pengalaman paling mengesankan adalah ketika aku mendapat granfondo yang pertama dalam kondisi hujan ketika pulang. Sampai di rumah, semua yang melekat di badan segera masuk ke pencucian dan badan benar-benar capek setelah menempuh rute 130-an km. Saat itu komunitas sepedaku memang jarang sekali bersepeda jarak jauh, atau kalau jarak jauh dibagi menjadi beberapa hari perjalanan. Seperti yang saat ini akan kujalani lagi, gowes bandung Jakarta 182 km dalam dua hari.

Gowes Harbak PU 72 tahun ini akan menempuh rute yang sama dengan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Tetap dengan jarak 182 km dan ditempuh dalam dua etape. Banyak orang yang sering melihat judul Gowes Harbak PU ke 72, hanya dari angka 182 km. Jarak sejauh itu sebenarnya sangat nyaman ditempuh karena dibagi 2 (dua) hari. Banyak lokasi regrouping, menata nafas bertemu kawan lama atau baru, saling mengobrol dan menyantap kuliner yang dipersiapkan dengan baik oleh panitia. Meskipun kuliner di harbak PU 2016 kalah jauh dibanding tahun 2015, tapi minat para peserta tetap tinggi. Komunitas WSKT tercatat 153 goweser yang mendaftar, dari jumlah itu hanya 119 yang melakukan daftar ulang.

Tim Heist 5.0 WSKT

Tim Heist 5.0 WSKT

Dengan jumlah peminat yang begitu banyak, maka panitia jelas berkeberatan untuk menyediakan ekstra jersey, medali maupun penginapan untuk komunitasku. Terpaksa kita memberi uang tambahan bagi EO Harbak PU untuk dapat mempunyai jersey dan medali.

Semua memang harus ada perjuangannya, seperti perjuangan untuk tetap Gowes Rabu rutin, kadang tidak berhasil tapi tetap diusahakan untuk ada. Meskipun kali ini aku hanya ikut sarapan, tidak jadi masalah, yang penting tetap ada waktu untuk ngobrol dengan komunitasku di hari Rabu pagi.

Sarung tangan baru yang gagal kupakai

Sarung tangan baru yang gagal kupakai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s