I’m stroke and I’m happy

Ngobrol sebelum start Gowes

Berita meninggalnya teman goweser dalam satu musim ini banyak mewarnai grup WA (whatsapps), termasuk grup WA-ku. Dari beberapa sebab meninggalnya teman yang sampai ke telingaku sebenarnya masih tidak jelas dan beberapa dari mereka malah tidak diketahui apa sebab meninggalnya. Seperti yang pernah kutulis tentang tiga misteri meninggal, salah satunya adalah penyebab meninggal karena apa, tidak akan pernah diketahui sebelum terjadi, bahkan setelah terjadipun kadang masih belum diketahui sebab meninggalnya. Hal itulah yang menyebabkan aku menulis “I’m stroke and I’m happy”, karena aku tidak tahu apakah stroke yang menjadi sebab seseorang meninggal atau hal yang lain.

Seorang teman mengingatkan aku,”jangan takut mati, tapi jangan mencari mati!”

Teman yang lain berkata,”yang penting itu mencari bekal ketika dipanggil olehNYA, jangan sampai tidak punya bekal yang cukup dan tahu-tahu sudah dipanggil olehNYA”

Dalam salah satu ceramah ustdaz kesayanganku waktu memimpin doa mengantar teman ke peristirahatan terakhirnya, dia hanya pidato singkat, agar yang memikul keranda tetap ikhlas mengangkat jazad teman yang meninggal, dia hanya bilang,”…. ini adalah suatu iktibar bagi kita semua, cukup kita menundukkan wajah dan mencari berkah dari oeristiwa hari ini….”

Kalimat yang singkat itu sudah bertahun-tahun lalu, tapi masih lekat dalam ingatanku, sehingga dalam kondisi saat ini muncul kembali dengan jelas berkelebat dalam memoriku. Akupun ingat kejadian “TIA” menimpaku dan aku tidak sadar kalau aku terkena “TIA”. Bagiku istilah “TIA” belum pernah kudengar dan yang kudengar adalah “thank in advance” sebagai kependekan dari “TIA”.

kopi klotok

kopi klotok

Waktu seorang dokter berkata bahwa aku terkena “TIA”, aku tidak paham bahwa artinya aku terkena “transient ischemic attack“. Aku bahkan sempat menolak ketika akan dibawa ke dokter, karena memang beberapa saat kemudian semua berjalan normal tanpa ada sedikitpun gangguan pada tubuhku. Memang pada waktu aku terkena “TIA” (transient ischemic attack), seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan meskipun berpikirku masih terasa normal. Aku hanya bisa menggerakkan dua bola mataku dan bebicara saja, tangan dan kaki tidak bisa digerakkan.

Orang yang berada di sekitarkupun tidak merasa ada perubahan di tubuhku, padahal aku dalam kondisi panik karena lumpuh dan tak berdaya sama sekali. Isteriku masih berbicara dengan nada biasa, karena dia tidak tahu istilah “TIA” dan tidak tahu gejala “TIA”. Aku mengalami “TIA” atau stroke ringan kira-kira tahun 2013 dan tidak kutindak lanjuti dengan benar, akibatnya aku mendadak terkena gejala stroke dan harus masuk UGD pada tahun 2015,  atau sekitar 2 tahun setelah diserang “TIA”.

Safety bike

Safety bike

Aku sendirian di Jakarta dan istriku di Jogja ketika aku masuk UGD. Aturan standard pasien STROKE adalah masuk suatu ruangan bersama-sama pasien STROKE lainnya, minimal 3 hari atau 7 hari. Ternyata aku berada di ruang UGD bagian STROKE selama 10 hari. Selama itu aku bersama-sama pasien STROKE lainnya yang tidak bisa bergerak bebas dan lebih banyak bersuara tidak jelas, beberapa kabel dilekatkan ke tubuhku dan aku hanya pasrah pada keadaanku yang saat itu sedang “down”.

Setelah kedatangan istriku ke Jakarta, barulah aku mulai merasa ada di dunia lagi. Akupun mulai berani melepas kabel sendiri yang melekat di badanku, para perawat sudah percaya dan membiarkanku melepas kabel dan berjalan sendiri ke kamar mandi. Aku seperti orang sehat dalam kerumunan orang sakit dan itu harus kunikmati selama 10 hari. Alhamdulillah, istriku begitu setia menemaniku dan membantuku saat aku ke ruangan lain dengan kursi roda. Aku merasa sanggup berdiri dan berjalan tapi aku menikmati duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat yang ditemani oleh istriku.

MTB di jalur RB

MTB di jalur RB

Pada hari ke-7, pas hari Jumat, aku harus sholat Jumat dan rasanya seperti berada di dunia lain. Itulah hari pertama aku keluar dari rumah sakit dan menikmati matahari menuju masjid di Rumah Sakit. Sepeninggalku dari RS, aku masih tidak percaya diri dengan kondisiku, aku lupa kapan akhirnya aku gowes lagi, yang jelas aku merasa badanku tidak ada apa-apa, sehingga aku akhirnya ikut daftar Gowes Harbak PU ke 70. Hampir semua orang menyarankan aku untuk tidak mengikuti acara itu.

Akupun tetap ikut acara itu, tapi untuk menyenangkan hati teman-temanku, aku tidak sampai finish bersepedanya. Sebelum finish, pada pos terakhir aku loading sampai lokasi finish. Aku baru bersepeda jarak jauh lagi ketika ikut acara gowes Waduk Gajah Mungkur. Setelah itu aku mulai terbiasa lagi untuk gowes jarak jauh sampai sekarang.

Kejadian Gowes Harbak PU 72 tahun 2017, membuka pikiranku untuk tetap menjaga ritme gowesku dengan penuh gembira. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil, dimana dipanggil dan oleh sebab apa dipanggil, jadi aku cukup menjaga diri dengan sebaik-baiknya, bersepeda mengikuti semua tips gowes sehat dan terus memperkaya bekal menuju saat panggilan tiba.

I'm stroke and I'm happy

I’m stroke and I’m happy

I’m stroke and I’m happy !
Bismillah ….

3 komentar

  • Ping-balik: Memori BK 1212 | Blogger Goweser Jogja

  • Agak sedih juga bacanya… Bisa buat pelajaran buat yang muda -muda Om.
    Thanks ceritanya

    Disukai oleh 1 orang

    • makasih mas @Lintang 🙂
      semoga berakhir baik
      aamiin YRA

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s