Test Drive Bromie

BB 66 Bottom Bracket

Akhirnya setelah berkali-kali dikompori teman-teman WSKT, muncul sebuah Bromie merah di Markas Hijau Daun Cawang. Langsung dicoba untuk Monas Loop, start dari kementrian BUMN dan sambil menunggu peserta lain berdatangan, aku Test Drive Bromie (brompton) di halaman start. Saat jalan menurun tajam baru terasa perbedaan antara Bromie dan BF (bike friday), begitu juga ketika menanjak tajam. Padahal saat jalan datar, perbedaan yang ada sangat kecil.

Itu mungkin salah satu sebab mengapa kawanku berpesan kepadaku dengan serius, bahwa rute LTDJ dijamin tidak cocok kalau aku mengendarai Bromie. Memang persiapan LTDJ harus tahun ini harus lebih bagus dibanding tahun lalu.

“Kalau pak Eko mau mengikuti jalur LTDJ 2018 dengan seli BF, aku ikut naik seli BF juga, tapi kalau memakai seli Bromie, aku sarankan jangan berpikir kesitu!”, katanya tegas.

Beberapa orang teman WSKT memang merencanakan untuk mengikuti rute LTDJ memakai seli BF dan beberapa lagi tetap setia dengan RB (road bike). Aku sudah mencobanya untuk rute sampai pos 1 LTDJ dengan memakai seli BF, meski beberapa kali berhenti, tetap lulus dengan sempurna, sehingga aku terinspirasi untuk memakai Bromie menempuh rute LTDJ. Aku tinggal membaca dan memahami tips untuk nanjak di Selopamioro pos 1 Panggang.

Dari pengalaman sehari di Monas loop, aku memang mulai merasakan beratnya bromie untuk diajak “sprint”, tapi kulihat di catatan strava masih berimbang, hanya saja “effort” yang dilakukan yang terasa berbeda. Aku juga mulai tahu kalau Bromie biarpun enak untuk tanjakan, tapi karena faktor tidak bisa untuk “sprint”, sehingga kalau ketemu tanjakan panjang dan pingin segera menuntaskan tanjakan akan berat akibatnya. Kuncinya memang sabar di tanjakan, membiasakan untuk gowes dengan rpm (round per minute) tinggi dan tetap di jalurnya. Gowes itu sak madyo wae :-).

Salah satu “penunggu” Monas loop yang memakai bromie sudah pernah bercerita padaku, bahwa keunggulan Bromie memang pada kebiasaan kita bersepeda dengan rpm tinggi. “Awalnya kelompok bromie ini berdiri, kita batasi kecepatan sampai sekitar 26 kmj saja, tapi Om tadi sudah lihat kecepatan maksimal sudah ada yang sampai kepala empat!”

Hari ini aku ke Surabaya untuk kembali melanjutkan “Test Drive Bromie” besok pagi. Jalur kota-kota dan sarapan di Soto Cak Har yang fenomenal, setelah itu balik lagi ke Jakarta dan minggu depan lanjut lagi ke Lampung untuk merasakan bromie di seputaran kota-kota Lampung.

Lipat Bromie ke koper

Lipat Bromie ke koper

Ada dua pilihanku untuk mencari koper sebagai tempat Bromie diangkut kesana kemari, pilihan pertama tentu koper original Bromie yang memang dibuat khusus untuk Bromie. Pilihan kedua adalah koper merk lain yag ukurannya lebih besar sedikit dibanding koper original. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Koper original membuat helm dan asesori yang lain tidak bisa ikut masuk, karena memang dibuat khusus untuk membawa sepeda, sementara perlengkapan di luar sepeda, dibawa dengan tas yang lain. Koper merk lain yang lebih besar mempunyai keuntungan bisa membawa semua perlengkapan sepeda termasuk sepedanya. Keuntungan lain, harganya jauh lebih murah, sehingga selisih harga bisa untuk membeli asesoris lainnya.

Bromie sudah masuk koper

Bromie sudah masuk koper

Godaan “upgrade” di Bromie ternyata memang sangat tinggi. Begitu tahu aku memakai Bromie, seorang teman langsung berkata supaya roda kecil di belakang yang terbuat dari plastik langsung diganti roda yang benar. BB (bottom bracket) langsung diganti agar lebih ngacir dan masih banyak asesori yang lain yang diusulkan untuk ditambah. Tidak heran kalau Bromie yang tadinya harganya terjangkau bisa berganti jadi tidak terjangkau karena beberapa komponen diganti dengan yang jauh lebih mahal.

BB Bromie

BB Bromie

Aku hanya tertarik untuk mengganti BB dan memasang tas untuk membawa HP, dompet dan perlengkapan minor lainnya selama naik Bromie. Terpikir juga untuk membawa tas yang dapat untuk tempat camera, tapi sampai saat ini belum ketemu dimensi tas yang pas. Sementara aku pasang dulu tempat untuk sandaran tas saja di depan bukan di belakang, agar lebih mudah diawasi dan dikelola jika berada di depan.

Bismillah, Surabaya aku datang uintuk “Test Drive Bromie”dan kembali mencari teman baru.

BB 66 Bottom Bracket

BB 66 Bottom Bracket

5 komentar

  • Ping-balik: Demam Brompton | Blogger Goweser Jogja

  • Ping-balik: Gowes Surabaya | Blogger Goweser Jogja

  • Ngatoss2 mas.
    Sak madyo wae…..

    Disukai oleh 1 orang

    • injih matur nuwun pak Pamudjo 🙂

      Suka

  • Ngatoss2 mas.
    Sak madyo wae…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s