Demam Brompton

Kumpul Monas

Sudah lama terdengar sepeda lipat yang paling praktis dilipat, itulah seli (sepeda lipat) Brompton. Sebagai pemakai seli bike friday (BF), aku masih saja menganggapnya angin lalu saja, karena menurut perkiraanku, seli brompton hanya sangat praktis dilipatnya tapi keunggulan yang lainnya tidak ada. Baru setelah aku “dipaksa” memakai seli brompton, pandanganku berubah total, apalagi setelah aku melakukan test drive bromie di Surabaya. Aku makin yakin akan kelebihan yang lain dari sekedar mudah dilpat dari Brompton, aku mulai merasakan sihir dari Bromton. Inilah saatnya aku demam Brompton.

Sepeda polygon Heist 5.0 yang sudah lama menjadi tunggangan rutinku sudah mulai tidak dilirik lagi, ibarat istri muda datang, istri tua terlupakan, seli bromie datang Heist lari dari pemikiranku. Padahal Heist sebenarnya adalah sepeda yang sangat praktis dipakai untuk segala medan. Ternyata Heist masih kalah dari bromie bila untuk jalur kota-kota, lebih ringan dibawa kemana saja dan lebih banyak kawan yang mempunyainya. Alhasil perjalanan Jakarta Bogor terasa begitu dekat dan begitu gampang dijangkau dengan bromie.

Awalnya memang aku memakai bromie untuk ke Istana Bogor dan kemudian berlanjut pada event-event lainnya, mulai dari Surabaya, Lampung dan rute lainnya. Dari berbagai rute kota-kota yang kulalui memakai bromie, sudah terbukti kalau bromie lebih praktis dipakai dibanding Heist. Pagi ini juga sudah kudengar tentang rencana pergi ke Cisarua taman safari Bogor. Sebuah ide yang sudah lama kupikirkan dan mungkin akan terlaksana pada tahun ini. Tinggal menantang tekad yang ada, kalau sudah bulat dan sudah yakin untuk bersepeda ke Taman Safari, pasti ada jalan menuju ke TSI (Taman Safari Indonesia). Man jadda wajada !

Bromie merah kembali turun ke jalan

Bromie merah kembali turun ke jalan

Pas hari buruh, rombongan bromie WSKT juga ikut turun ke jalan, bukan untuk ikut demo, tapi untuk merasakan aura para demonstran dalam menyikapi hari buruh (mayday). Lebih santai dari hari biasa, karena memang tanggal kelender berwarna merah. Kalau biasanya jam 08:00 harus sudah di kantor, maka untuk hari ini disempatkan untuk lesehan dulu di Monas, sekedar menikmati pecel Monas plus diskusi dengan para ABRI yang berjaga di seputaran monas.

Sepulang dari Monas, masih juga kita sempatkan untuk bercengkerama di Taman Senopati. Kita juga sempat diwawancara tentang “mayday” dan sempat juga berpose bersama dengan cameraman maupun host acara. Semua WSKT, pada dasarnya hari ini sedang demam brompton, ada beberapa pengguna baru yang sedang menikmati cara mengubah persneling kanan dan kiri.

rombongan seli di Bogor

rombongan seli di Bogor

Berbeda dengan sepeda biasa, maka perpindahan posisi gear pada brompton sedikit berbeda. Diperlukan kebiasaan baru agar saat mengendarai brompton berjalan lancar seperti biasanya. Pada tangan kiri hanya ada dua posisi, yaitu posisi (-) dan satunya posisi (+), sedang pada tangan kanan ada 3 (tiga) posisi yaitu posisi (1), (2) dan (3). Kalau dilihat dan dihapal pasti sangat mudah, tapi giliran di jalanan ketemu jalan menanjak, maka secara reflek posisi dari gigi “high power” ke gigi “low power” biasanya “macet”, karena memang tidak bisa dilakukan pergantian posisi gear pada sat ketemu rute menanjak.

Demam Brompton sudah lama melanda Indonesia, tapi baru kali ini aku ikut terlibat. Sejak hari ini dan mungkin seterusnya, aku akan lebih menjaga hati agar tidak terbujuk rayu dalam acara “upgrade sepeda”. Disamping akan terkendala dengan masalah biaya, aku juga ingat perkataan seorang goweser sepuh,”….. orang yang suka mengupgrade sepedanya, biasanya keasyikan dan lupa dengan tujuan membeli sepeda …..”

Semoga aku tetap rajin bersepeda, salam gowes !

Kumpul Monas

Kumpul Monas

5 komentar

  • Ping-balik: Heister Jogja | Blogger Goweser Jogja

  • Daripada Heist nya dicampakkan, sini buat aku aja om 😁

    Disukai oleh 1 orang

    • hahahaha …..
      heist untuk jarak jauh atau nanjak yang tidak tercapai oleh bromie 🙂
      salam gowes sehat mas bro 🙂

      terima kasih sudah mampir

      Suka

  • Brompton sepeda lipat paling praktis untuk lipatannya. Harganya mahal, saya masih pikir-pikir buat beli Brompton. 😀

    Disukai oleh 1 orang

    • betul mas Bagus 🙂
      harganya mahal dan perlu dipikirkan kalau mau beli, itu sebabnya teman-teman meracuniku dengan berbagai cara dan akhirnya sukses meracuniku.
      memang kalau dari sisi kepraktisan dilipat dan dibnawa kemana-mana, Brompton paling unggul tapi untuk mengikuti event-event sepedaan yang perlu power dan kecepatan, kayaknya aku juga masih milih BF atau Heist dari polygon.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.