Memori Remais Muhajirin

Pengajian Akbar MM PCC

Setelah menulis tetang memori Delayota, tidak bisa tidak aku harus menulis Memori Remais Muhajirin, disamping keduanya akan meledak di hari yang berurutan, mereka juga banyak meninggalkan memori yang sama pahitnya dan sama manisnya. Tentu aku tidak akan menulis yuang pahit-pahit, karena semua uyang pahit itu hanya tyerjadi pada masa lalu, pada masa “now” yang tinggal hanya manisnya saja. Ini memang sebuah tulisan yang subyektif atau lebih dekat ke “narsis”, tapi begitulah aku 🙂

Aku kenal Masjid Muhajirin ketika masih berujud bangunan semi permanen dan ikut salah satu agenda acaranya, yaitu lomba lagu, sehingga dalam kegiatan masjid Muhajirin selanjutnya, aku lebih sering mengurusi masalah kesenian. Namun aku masuk dalam radar Remais justru melalui olah raga, waktu itu belum ada yang namanya sepeda gembira, jadi ketika Remais menghadakan sepeda gembira (fun bike), pesertanya banyak sekali dan terlaksana dengan sukses. Dari acara “fun bike” itulah aku masuk dalam radar Remais dan yang tadinya aku cuma anggota Remapu (Remais Pulang Pagi), sekarang mulai dikenal dalam Remais.

Remais jaman now

Remais jaman now

Aku makin dikenal di Perumnas, karena ketika acara ronda 3 blok di seturan, aku dikenali oleh salah seorang pemuda Perumnas (Dodo), sebagai aktifis kampus UGM dalam bidang seni. Makin terkenal lagi, karena temanku yang karyawan UGM juga terlihat sangat akrab denganku, padahal beliau adalah bapak dari kawanku dan merupakan orang yang disegani di Tluki Perumnas. Lucu juga, jika di kampus kita saling bicara “ngoko” dan “goker” (gojek kere), di kampung berubah jauh.

Ketika terpilih sebagai ketua Remais baru, meneruskan kepengurusan lama yang serba santun, aku mungkin terlihat mencolok di mata takmir masjid. Penampilkan generasiku memang berbeda karena ilmu agama kita kurang, sehingga jadi mencolok ketika bersama Takmir masjid ikut memakmurkan majid. Banyak kebijakan kita yang berbeda jauh dengan kebijakan takmir kala itu, kalau bukan karena banyaknya tokoh-tokoh penting takmir yang masih melihat “sinar terang” di keremangan tindakan kita, mungkin Remais pada era kita sudah dibubarkan saat itu.

Pak Hari Warso, pak Ujang, Pak Syaiful dan masih banyak lagi yang berderet memberi masukan pada kita, melalui ibuku atau bicara langsung padaku, sehingga persoalan yang tadinya dianggap sudah di tingkat “membahayakan” bisa diredakan. Salah satu yang paling sederhana saja, ketika Mas Udin “Paimo” menginjakan kakinya dengan bersepatu di teras Masjid dalam salah satu pementasannya, Takmir masjid tentu saja langsung protes dengan sangat keras. Masih banyak lagi perbedaan pendapat yang terjadi, tapi semua selesai dengan baik dan Remais makin disegani ketika aku akhirnya juga diganti dengan jajaran pengurus Remais yang baru.

Bukan Remais MM

Bukan Remais MM

Aku mulai bergerak masuk dalam wadah bidang kaderisasi, pengurus Remais juga sudah makin “melek” agama, juga banyak muka baru yang sangat disegani oleh takmir masjid, antara lain (calon) dokter Hewan Nurrochmat. Beliau “cas cis cus” dalam bahasa Arab, sehingga siapapun yang mendengarnya tinggal menjawab “amin”, karena banyak yang belum menguasai bahasa Arab.

Di era Remais ini, sempat juga diadakan lomba dakwah, sebagai salah satu juri yang masih kuingat adalah pak Ujang dan Pak Syamsudin, pemenangnya sudah pasti adalah mas Nurrochmat, Kegiatan ini berbeda jauh dengan kegiatan jaman aku jadi ketua Remais. Saat itu kita lebih banyak ngumpulin duit untuk membuat acara yang kita anggap spektakuler. Berbagai cara mencari uang kita tempuh dan yang tadinya hanya angan-angan kita ujudkan dengan gampang, sangat gampang malah.

Kita hidupkan semangat masing-masing kelompok pengajian RT, kita ciptakan persaingan, perlombaan semangat antar kelompok pengajian. Sampai-sampai saking kehabisan ide, kelompok pengajian kita namakan dengan nama yang berbau arab, misalnya Al Malita sebagai kelompok pengajian Mawar-Melati-Tanjung. Semua dalam rangka “fas tabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Dalam kepengurusan Remais, juga kita adakan olah raga bela diri, sehingga dapat melibatkan seluruh warga Perumnas, baik anak-anak maupun para pinisepuh. Adanya para pendekar yang turun di Perumnas, membuat Remais makin disegani, jadi bukan hanya keilmuan rohani, diwakili oleh takmir yang arif, juga ilmu jasmani yang terlihat di seantero gang Perumnas.

Pengajian Akbar MM PCC

Pengajian Akbar MM PCC

Memori Remais Muhajirin akan tumpah ruah di Perumnas Condong Catur, pada hari Senin 18 Juni 2018. Akan hadir mantan para ketua Remais dari peiode 1978, jaman jadul, sampai jaman “now” di Masjid Muhajirin. Aku masih terkenang dengan masjid Muhajirin ketika dalam beberapa kali waktu sholat Maghrib, sampai harus dilakukan dua kali shift sholat jamaah ! Indahnya memori jaman old, tapi harus diakui bahwa jaman “now” lebih menantang dan lebih memerlukan perjuangan yang lebih “smart” dan lebih “bermutu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.