Ditabrak angkot

Sekali lagi aku mengalami jatuh dari sepeda, bedanya biasanya karena kesalahanku kali ini aku merasa tidak salah dalam bersepeda tapi pengguna jalan lain yang tidak mematuhi aturan lalui lintas yang sudah ditetapkan. Bisa jadi sopirnya tidak mempunyuai SIM yang berlaku, atau bisa jadi SIM-nya hasil rekayasa tertentu, yang jelas aku jatuh dari sepeda karena ditabrak angkot yang sopirnya merasa kesalahan ada pada penumpang. Sopi baru mengaku salah ketika aku bicara langsung padanya,”pak Sopir merasa salah enggak?” dan dia menghangguk pelan (tanpa suara).
Kejadiannya sendiri mengingatkan aku pada seminggu sebelum acara Gowes WSKT ke Malang. Aku bersepeda santai ke Pantai Indah Kapuk (PIK) bersama teman-teman WSKT untuk pemanasan gowes Malang. Aku jatuh dari sepeda karena kurang trampil membawa sepeda lipat baru dan roda depan masuk dalam celah sepit di jalan. Setidaknya itulah “kambing yang dihitamnkan” dalam kasus jatuhnya aku di seputaran jalan Semanggi yang lebar dan sepi.
Kali ini aku jatuh lagi di tempat yang mirip dengan kejadian di seputar Senanggi, sepi dan lebar, di seberang Gramedia Matraman. Yang beda adalah penyebabnya, kali ini aku ditabrak angkot dengan sempurna, sementara aku bersepeda dengan kecepatan normal, di bawah 20 kmj dan di lajur sepeda bukan lajur mobil.
Akibatnya juga sangat berbeda meski mirip, sama-sama jatuh di aspal, bedanya kalau waktu kejadian di Semanggi aku tidak bisa langsung berdiri, dada sesak dan sempat kesulitan bernafas sampai berhari-hari, kali ini aku langsung bisa berdiri dan berdiskusi dengan sopir angkot bersama beberapa orang yang tadinya berdiri di pinggir jalan. Suaraku juga bisa keluar ketika berdiskusi, beda dengan kejadian jatuh di Semanggi, aku sama sekali hanya bisa memberi isyarat tangan mengabarkan kondisiku. Untung saat itu ada pak Anang yang sangat tanggap dengan isyaratku dan bagaimana prosedur menangani kecelakaan jatuh dari sepeda.
Orang yang melihatku berdiskusi dengan sopir mungkin risi dengan kondisi kepalaku yang terlihat ada rembesan darah, sementara di bawah sikuku darah terlihat sangat jelas, tapi kuabaikan (karena merasa tidak sakit). Mereka kemudian menyarankan aku untuk ke Puskesmas terdekat agar segera mendapat tindakan dari dokter. Akupun mengikuti saran mereka dan diantar sopir taksi yang mereka panggil menuju ke puskesmas terdekat.
Satpam Pusklesmas ikut membantuku melaporkan kejadian ini di grup WA WSKT, sehingga salah seorang temanku langsung meluncur dan selfie di depan Puskesmas Matraman kelurahan Pal Meriam. Untung aku juga mengirim lokasi puskesmas ke grup, nama kalurahannya agak membingungkan teman-temanku, mereka rata-rata belum fimiliar dengan nama PAL MERIAM, sehingga tidak tahu harus kemana. Ketika akhirnya aku menghirim lokasi dan temanku tahu aku jatuh di depan Gramedia, mereka baru yakin harus mengarah kemana. Seperti yang kuduga, pada jam sepagi ini dari Cawang arah ke Matraman akan sangat macet, berbeda dengan arah ke Cawang. Jadilah pak Heri datang aku sudah meninggalkan Puskesmas.
Kronologis kejadian dan tindak lanjut :
1. Aku bersepeda santai, kubaca di Garmin 1030 aku bersepeda dengan kecepatan di bawah 20 kmj dan heart rate di bawah 120 bpm, menghambil lajur paling kiri.
2. Sebuah angkot dari lajur mobil, tiba-tiba ada di depanku dan menyeret sepedaku beberapa meter ke depan. Angkot berhenti ketika banyak orang dan aku juga bertereak-tereak supaya berhenti.
3. Angkot berhenti dan sepedaku jatuh, aku langsung menghampiri sopir angkot dan bersama-sama dengan orang-orang yang tadinya berdiri di pinggir jalan berdiskusi dengan sopir angkot.
4. Setelah sopir angkot kusuruh pergi, aku berniat pulang ke Cawang, tapi beberapa orang menyarankan aku untuk naik taksi ke puskesmas terdekat.
5. Usai dari puskesmas, aku melanjutkan berobat ke klinik Waskita yang kutahu lebih lengkap dan lebih perhatian dalam merawatku.
6. Oleh doter perusahaan, aku dtujuk ke RS Premier Jatinegara untuk dijahit kepalaku yang terlihat masih basah oleh darah.
7. Usai dari RS Premier, aku kembali ke klinik untuk menyempurnakan penutup lukaku,
8. Jumat aku cek ke klinik lagi untuk mengganti perban dan Rabu depan untuk melepas jahitan di RS Premier.
Harus kuakui bahwa hari ini kegiatanku habis untuk membahas masalah luka akibat jatuh ditabrak angkot dibanding mengurusi kerjaan lainnya. Telpon dari mana-mana (termasuk video call), menjawab WA teman-teman, lapor direktur kondisi yang sebenarnya dsb, karena yang beredar adalah kejadian yang tidak sebenarnya terjadi dan lebih banyak asusmsi mereka sendiri dan menyebar via WA grup.
inti dari tuilisan ini sebenarnya adalah PAKAILAH HELM SEPEDA dimanapun nada naik sepeda 🙂 Helm yang baguspun tidak menjamin, apalagi tanpa HELM 🙂
Owhh… Pejuang kesehatan pribadi yg jempolan.. Bahkan untuk sehat itu sendiri rela dilewati dgn ” Tidak sehat ” sementara. Luarrr biyasahhh.. 👍😍
SukaDisukai oleh 1 orang
terima kasih mas atensinya 🙂
SukaSuka
Ping-balik: Olah raga di bulan puasa | Blogger Goweser Jogja
Ping-balik: Gowes Tahun Baru 1440 H | Blogger Goweser Jogja
Ping-balik: Puasa Senin Kamis | Blogger Goweser Jogja
Ping-balik: Belajar arti kehidupan | Blogger Goweser Jogja
Semoga cepat sembuh Pak Eko. Doakan dari Surabaya.
SukaDisukai oleh 1 orang
Aamiin YRA
Terima kasih mas Bagus atas perhatiuan dan doanya.
Alhamdulillah ketemu mas Bagus lagi nihj ….
Ikut acara SRBC nggak mas ?
Salam sehat.
SukaSuka