Endurance lari

santun bersepeda Jogja

Banyak teori tentang lari dan hampir semuanya masuk akal, tapi tidak semua dapat kulakukan dengan baik, berbagai alasan selalu muncul untuk menjalankan teori lari itu. Akhirnya aku kembali pada cara klise saja, lari semampu kekuatan badan kita dan lari dengan hati riang gembira. Tanpa terasa endurance lari jadi makin bertambah, meski nambahnya hanya sedikit banget, tapi sudah jauh mending dibanding performanceku saat awal berlati.

Aku yang tidak mikir soal “pace”, kini tiba-tiba sudah bisa lari dengan “pace” dibawah 10, bahkan aku sempat lari 5K dalam waktu 37 menit. Bagiku itu adalah suatu prestasi yang luar biasa, meskipun kalau melirik pace teman-temanku sering jadi ngeri sendiri, ternyata aku tetap masih jauh ketinggalan dibanding mereka yang lebih dahulu menyukai olah raga lari.

Aku jadi sempat terombang ambing, antara meningkatkan VO2max atau tetap di nilai VO2max saat ini, selalu ajeg di kepala 3 alias pada angka normalku saja dan bukan angka “peak performanceku”. Pada akhirnya, aku memang memilih berolah raga dengan heart rate monitor menunjukkan nilai zona aman dan hanya sesekali menyentuh zona merah, aku toh hanya “atlit” hore, sebagai penggembira saja dan bukan tokoh utana dalam berolah raga. Memang aku tetap konsisten untuk berolah raga dengan caraku dan bukan cara yang umum dilakukan oleh orang lain pada umumnya.

Pernah suatu hari aku lari dengan full semangat dan ketika diminta tolong oleh pengguna jalan lain untuk tidak berlari cukup berjalan saja, aku tetap dengan gembira menyetujuinya dan menemani mereka untuk berjalan-jalan saja menikmati suasana pagi yang cerah di stasiun Jogja. Ketika kemudian aku kehilangan momen untuk berlari dengan full speed, aku merasa biasa-biasa saja dan semuanya tetap bisa kunikmati dengan ceria.

Hal senada juga kualami ketika aku bersepeda dengan temanku yang pecinta sepeda onthel, aku tetap dapat menikmati kebersamaan dalam kecepatan yang lebih lambat dari biasanya, justru aku lebih menikmati kebersamaan dalam melakukan foto di beberapa obyek “land mark” maupun non land mark yang kulewati, semuanya tetap mendatangkan kegembiraan hati yang susah dilukiskan. Tertawa bersama, makan minum bersama, berolah raga bersana memang salah satu kesenangan yang hanya kita dapatkan saat ini ketika umur mulai menginjak lansia muda (60 th ke atas).

aerobik result

aerobik result

Saat usia sudah lanjut, maka teman kita satu persatu mulai meninggalkan kita, bahkan beberapa teman yang lebih muda lebih dahuu menghadap ke hadiratNYA, entah kapan kitapun akan menyusul mereka, tinggal menunggu waktu saja. Disamping mencari bekal untuk kembali padaNYA tentu tidak salah kalau kita juga tetap dapat berbahagia di sisa umur ini, makanan lezat tetap menjadi salah satu pilihan ketika selesai berolah raga, bedamya saat ini yang disebut lezat itu berbeda dengan yang disebut lezat pada jaman (kita) dahulu.

km Nol Jogja

km Nol Jogja

Daging dari hewan berkaki empat sudah muai kita hilangkan dari menu kita, sayur mayur dan buah-buahan lebih mendominasi menu makan pagi maupun makan siang, menu makan malam mulai ditinggalakn sedikit demi sedikit. Makan malam serasa tidak begitu perlu lagi, toh seusai makan malam kegiatan yang ada hanya tidur saja, jadi sudah tidak perlu energi lagi. Justru waktu menjelang dini hari adalah waktu yang tepat (bagiku) untuk makan, bukan makan yang biasa tapi makan yang berbeda, karena yang kita berimakan adalah hati kita dan sedikit jasmani kita.

jakarta bersepeda

jakarta bersepeda

Menu makan dini hari, biasanya dimulai dengan sesendok madu dan kemudian melemaskan badan dengan sholat sunah malam, dua rakaat atau lebih, kemudian minum air putih (sebaiknhya hangat) dan buah seadanya (biasanya semangka, pepaya atau timun. Sehabis subuh akupun mulai kegiatan olah raga lari/sepedaan, tergantung pada teman yang ada waktu menemaniku. Paling sering memang olah raga lari, tinggal pakai sepoatu dan pemanasan sebentar lanjut lari/sepedaan. Lari tetap dalam zone aman, sehingga ENDURANCE LARI makin bertambah nilainya dan akupun bisa berlari makin jauh jaraknya maupun lamanya.

santun bersepeda Jogja

santun bersepeda Jogja

Hidup itu hanya numpang minum, mung mampir ngombe, tidak usah terlalu menginginkan yang banyak, penuhi kebutuhanmu sesukupnya saja, maka hidup ini akan terasa makin nikmat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.