NonToN LasKaR PeLaNGi [akhirnya]
Keinginan Rama untuk nonton kembali film Laskar Pelangi kesampaian juga. Syaratnya cuma satu, “harus mau antri lagi, untuk semua saudaranya yang ingin juga untuk nonton film Laskar Pelangi”.
Aku dapet tiket no C.13. Ini adalah nomor favorit, artinya tempat dudukku berada di deretan belakang dan posisi di tengah [kalau versi iklan operator ponsel, nanti pasti akan dapet teman duduk yang tidak disangka-sangka]. Bener juga, yang tadinya di samping kananku adalah anakku, rupanya ganti dengan adik istriku. So…. nomor tiket sudha nggak laku lagi di keluargaku, karena sepanjang baris C [deret tengah] ini memang dikuasai oleh keluargaku.
Di depanku baris D dan E adalah tempat keluarga Kauman [ngantrinya bareng sih], sehingga habi snonton, sambil menunggu sepinya pintu exit, maka kamipun ngobrol [baris C, D dan E]. Ini rupanya salah satu nilai plus Laskar Pelangi, mendekatkan diri antar keluarga dalam suasana yang belum pernah kita bisa ulangi tahun depan atau sepuluh tahun lagi [kecuali kalau film semacam laskar pelangi ini terus dibuat dan memunculkan antusiasme masyarakat yang gila-gilaan].
Filmnya sendiri memang didukung oleh bintang-bintang papan atas, disamping tokoh anak-anak yang juga bermain sangat luar biasa. Sebut saja Ikranegara, Slamet Rahardjo, Cut Mini, Tora, Alex Komang, “Oneng” Pytaloka, Jajang, dll. Mereka adalah aktor-aktris yang sangat menjiwai peran mereka.
Pengambilan angle camera dan setting yang memukau membuat film ini layak untuk diberi jempol. Tentu saja, kekuatan film ini memang pada alur cerita yang sangat sederhana, menyentuh dan tidak atau bekum ada duanya.
Sound tracknya?
Jangan tanya kehebatan Nidji dalam membawakannya. Ada semangat yang menyala-nyala dalam lagu yang dibawakan oleh Nidji itu. Mungkin dipilihnya Nidji karena energiknya Giring dalam melakukan performance panggungnya, sehingga dirasa pas kalau lagu itu dibawakan oleh Nidji.
Kalaupun ada kekurangannya, kelihatannya ada pada pengaruh model penuturan Andre Hirata yang suka dengan bahasa berbunga-bunga, detil dan itu semua membuat film ini jadi terasa lamban.
Akan lebih baik lagi kalau setelah cerita berakhir dimunculkan tokoh asli dalam film LP itu. Bagaimanakah sosok Ibu Muslimah sebenarnya, bagaimanakah kondisi SD itu sekarang. Itu akan membuat penonton tetap terpaku sampai film benar-bhenar abizzz.
Pulangnya, aku buat kuis ke anak-anakku.
“Urutkan 3 film ini berdasar kehebatannya :
Laskar Pelangi, Nagabonar dan Nagabonar [jadi] 2”
Rupanya anak-anakku sepakat pada urut-urutan ini :
1. Nagabonar [jadi] 2
2. Nagabonar
3. Laskar Pelangi
Sepakatkah anda?
Nanti kita buat pollingnya saja.
Jam 22.30 kami mampir lagi ke gudeg Ibukota. Biasa…. nyari ceker lagi. 10 ribu dapet 1 piring gudeg ceker yang lezat….!




Ping-balik: Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Perempuan Berkalung Sorban
Ping-balik: Pondok Cinta (YoGyA) | Perempuan Pake Sorban
Ping-balik: Revalina berkalung Sorban « PoJoK YoGyA (lagi)
Di Malang seru juga nggak ya antri ndapetin tiketnya?
Ada yang bilang lebih seru antrinya daripada nontonnya.
He..he..he… kurang kerjaan ‘kali dia..
SukaSuka
Nhaaaaa….kebetulan, tadi siang saya baru nonton Laskar Pelangi di Malang Town square! Filmnya bagus banget, tapi memang benar sih, endingnya kurang sreg, dan lagi, durasi filmnya kurang lama (kalau bisa 4 jam kali ya…) . Kalo menurut saya, 1. LP 2. nagabonar Jadi 2 ;trus 3. Nagabonar
SukaSuka