Film Perfect House akankah menjadi trend baru genre Psycho Thriller


“Film Perfect House akankah menjadi trend baru genre Psycho Thriller?”


Film Perfect House akankah menjadi trend baru genre Psycho Thriller

Itu sebuah pertanyaan yang muncul di kepalaku setelah menonton film ini. Awalnya aku hanya menemani istri untuk nonton film, tapi karena jam tayang film yang cocok hanya film ini, maka akupun membeli dua tiket untuk nonton dan kami berdua tertawa tertahan ketika melihat adegan awal film ini.

“Waduh salah nonton ini”, kata istriku ketika melihat adegan seorang gadis cantik yang berwajah pucat karena sudah mati dan dikubur di sebuah hutan.

“Gimana? Kita keluar lagi saja atau mau lanjut?”, jawabku.

“Wis terlanjutr masuk, kita tonton saja sambil ngobrol”, jawab istriku sambil merapikan duduknya. Biasanya istriku memang suka tidur kalau lihat film yang tidak sesuai seleranya. Bayangkan nonton film action 4 jagoan (Fantastic Four) dari komik Marvel saja, dia bisa tidur.

Adegan demi adegan kemudian mengalir perlahan. Akting Cathy terlihat enak dinikmati. Wajah cantiknya mungkin ikut mendukung perannya sebagai guru privat, sehingga kita bisa asyik mengikuti alur ceritanya.

Cerita akhirnya mulai menegangkan ketika Cathy bekerja di sebuah rumah terpencil, jauh dari keramaian dan tidak ada sinyal ponsel di dalam rumah itu.

“Kalau mau menelpon silahkan keluar rumah”, kata Bela sang empunya rumah terpencil itu.

“Hanya yang saya ijinkan keluar yang boleh keluar dari rumah ini. Ingat bak-baik itu !”, lanjut Bela.

Wah, cerita jadi mengada-ada nih. Masak mau keluar rumah saja kok harus ijin.

Makin lama mengikuti jalan cerita film ini, makin tidak terasa kalau film sudah setengah jalan dan ketegangan serta misteri terus membuat penasaran penonton. Wajah ayu Cathy sudah tidak jadi daya tarik lagi, tapi sudah beralih ke akting Cathy dan Bela.

Ini sebuah film yang murah mestinya, karena adegannya 80 persen ada di sebuah rumah saja. Aktornya juga hanya beberapa orang saja.

Cathy

Selesai nonton film baru aku tahu kalau untuk pembuatan film ini telah dilakukan hal khusus, yaitu workshop selama sekitar dua pekan dan langsung syuting. Akibatnya semua pemain bisa bermain secara total dan lepas.

Seorang aktor yang biasa berperan dalam film komedi, pada film ini memainkan peran sebagai seorang penjaga kebon yang sepanjang film tidak pernah bicara. Dia hanya bisa bicara melalui matanya dan gerak geriknya. Tentu sebuah tantangan berat baginya. Itulah Mike Lucock yang berperan sebagai Yadi.

Ini memang film model baru yang ternyata menarik untuk dilihat. Misteri baru akan terkuak ketika film ini berakhir dan penonton dibuat penasaran dengan akhir dari film. Sebuah nafas Hollywood atau Bollywood ya(?).

Ceritanya sebenarnya sangat sederhana. Seorang guru mengajar privat di sebuah rumah yang dihuni oleh seorang pemilik rumah (Bela) sebagai nenek dari seorang anak kecil dan seorang penjaga kebon. Kematian demi kematian yang misterius muncul di sepanjang film dan kematian terakhir yang membuat film ini jadi berbeda dengan film lainnya.

Akting Cathy boleh dibilang lumayan bagus untuk seorang yang tadinya sering mendapat peran tidak menantang. Akting Bela juga sangat pas dengan peran yang dimainkannya. Dua karakter inipun mewarnai semua adegan dalam film dan mereka boleh dibilang sukses memainkan peran masing-masing.

Kalau dicari ketidak sempurnaannya tentu banyak, tapi sebagai sebuah film alternatif dari genre film yang membosankan di Indonesia, film ini masih layak tonton untukku.

Meskipun tadinya aku merasa salah masuk film, tetapi akhirnya aku harus memberi apresiasi untuk film ini.

Pertanyaannya, apakah Film Perfect House akan menjadi trend baru genre Psycho Thriller? Itulah yang belum pasti jawabannya. Kalau melihat kecenderungan film horor dan sex yang laris, mungkin film ini bisa mendompleng pada larisnya film horor, tapi yang perlu diingat film ini sangat berbeda kemasan dan jalan ceritanya dibandimng film horror ala suster ngesot.

Akhirnya, selamat menonton. Pilihan ada di anda.

+++

Gambar diambil dari Facebook dan situs Boleh.CoM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s