Revalina berkalung Sorban


Setelah tertunda-tunda karena alasan yang tidak jelas, akhirnya aku sukses mengantar istri nonton Perempuan Berkalung Sorban. Sebuah tontonan “wajib” bagi kaum wanita dan tontonan yang membuat laki-laki jadi merasa risih.

Kuatnya peran laki-laki dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, dalam film itu dibuat secara ekstrem, sehingga seolah-olah wanita itu memang tempatnya di bawah ketiak laki-laki.

Aku sih belum pernah masuk pesantren, sehingga tidak tahu, apakah adegan dalam film itu benar-benar menggambarkan pesantren yang ada di Jombang atau hanya rekayasa film saja, sehingga menimbulkan kesan dominannya laki-laki atas wanita.

Nisa, sang gadis yang doyan naik kuda sambil berkalung sorban digambarkan sebagai gadis pemberontak yang ingin duduk sama tinggi dengan laki-laki. Kalau laki-laki boleh naik kuda, kenapa wanita tidak?

Hanya seorang laki-laki di lingkungan pesantren yang bisa memahami hati Nisa, dialah Lik Khudori yang digambarkan sebagai kerabat jauh Nisa. Selisih umur yang jauh dan kekerabatan inilah yang membuat Lik Khudori sulit mengungkapkan cintanya pada Nisa.

Apalagi ayah Nisa, seorang Kiai pemilik pesantren, sangat mendambakan Nisa menikah dengan lelaki anak Kiai dan bukan lelaki biasa-biasa saja.

Hal ini pulalah yang makin membuat Lik Khudori tidak bisa bertindak apa-apa. Dia tahu, cintanya pasti disambut Nisa, tapi tidak akan pernah disambut oleh ayah Nisa.

Sikap diam inilah yang makin membuat Nisa seperti layang-layang putus dan akhirnya harus menurut perintah ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan ayahnya, seorang anak Kiai dari pesantren lain.

Janji ayah Nisa untuk mengijinkan Nisa sekolah setelah menikah ternyata hanya menjadi angin lalu saja. Nisa menjadi budak suaminya dan tidak pernah punya kesempatan untuk sekolah.

Cerita makin seru ketika suami Nisa ternyata menikah lagi dan makin menelantarkan Nisa. Rasanya sudah habis kesabaran Nisa, tetapi nasib belum berpihak padanya. Sampai akhirnya Nisa bertemu lagi dengan Lik Khudori yang sudah lulus dari Kairo.

Api cinta yang memang tidak pernah padam itu kembali membara, bahkan demikian membaranya sampai Nisa rela dizinahi oleh Lik Khudori. Tentu Lik Khudori tak mau melakukan perbuatan itu.

Sayang pertemuan dua insan di tempat yang sunyi itu membuat orang jadi berpikiran buruk. Apalagi hukum orang berzina adalah dilempari dengan batu, maka dijalankanlah hukum itu atas mereka berdua.

Kisah semakin seru dan semakin menegangkan, sehingga harus nonton sendiri di bioskop. Gak seru kalau cuma mbaca di blog ini.

Bagi yang pernah melihat film AAC, maka film ini dibuat lebih berwarna dan membumi, sehingga lebih enak ditonton, meskipun sebenarnya kata “sorban” dalam film ini lebih terkesan sebagai “tempelan” saja.

Mungkin seperti buku Andrea Hirata yang berjudul Maryamah Karpov, yang tidak bicara banyak di dalam bukunya. Kalau suka laskar pelangi, maka pasti suka juga dengan film ini.

Lucunya, atau ironisnya, film yang bertemakan Islam ini diputar pas jam nanggung, maksudnya masuk sebelum asar dan selesai sesudah asar, atau masuk sebelum maghrib dan selesai setelah maghrib.

Jadi gimana caranya mereka menjalankan sholat asar atau maghrib sambil nonton film?

Foto-foto yang dimuat dalam iklan di studio 21 juga menampilkan Revalina tanpa jilbab. Hmm …. jauh beda dengan penampilan Reva sebagai Nisa di film itu.

Aku lebih suka Reva pakai jilbab dibanding nggak pakai jilbab.

Kalau anda?
Pilih mana?

20 komentar

  • Ping-balik: Film Indonesia merajai tahun baru 2014 | Eshape Blogger Jogja

  • avatar nining

    film ini bagus c,, tp krg promosi aj kali yah,, hee

    Suka

    • avatar eko sutrisno hp

      sebenarnya promosinya cukup bagus, tapi ada imam masjid istiqlal yang melarang nonton film ini (kalau gak salah), sehingga mungkin pada malas nonton film ini

      salam sehati

      Suka

  • Ping-balik: Ketika Cinta Bertasbih : Two Thumbs Up « PoJoK YoGyA (lagi)

  • avatar Eko Sutrisno HP

    ha…ha…ha….
    aku pernah ditest pak [MBTI], hasilnya memang aku suka mengambil hikmah dari sesuatu kejadian

    silahkan lihat profilku pak, type ENFJ
    [ada tuh di blogku yang di http://eshape.blogspot.com/

    makasih komentar pencerahannya pak
    kayaknya bisa menjadi komentator di blogku pak
    karena komentarnya ces pleng dan enak dibaca

    salam kompak selalu pak

    Suka

  • avatar Bhrebumi

    @Helmy
    Seperti yg telah saya tuliskan diatas, bahwa kita bisa menemukan nilai2 Islami
    dari hal2 yg tidak Islami.
    Memang benar kalu film PBS itu berisi adegan2 yg tidak islami.
    Contohnya: Adegan seorang suami memperlakukan istrinya dengan kasar.
    Tapi saya yakin, dihati pak Helmy pasti mengutuk perbuatan tersebut, iya kan?
    Nah…disitulah nilai2 Islami muncul, itulah hikmah yg bisa kita raih.
    Saya yakin, bahwa Alloh menuntun dan membimbing setiap hambanya dengan cara2 Linear dan tidak Linear
    (cara biasa dan tidak biasa), tapi terlalu sering kita tidak bisa menangkap pesan NYA.

    Misalnya:
    Seorang pembunuh yg setiap hari berkecimpung dalam dunia hitam,
    Apakah Alloh tidak mau menunjukkan jalan2 kebenaran padanya?
    Ketika seorang pembunuh melihat mata korbannya sekarat, pasti dihatinya tersirat rasa kasihan, rasa iba,
    dan tidak menutup kemungkinan dia akan merasa dikejar2 oleh dosa.
    Sampai akhirnya sang pembunuh itu bertobat.
    Itulah cara ‘tidak biasa’ yg Alloh tunjukkan bagi orang2 yg keras hatinya, agar sang pembunuh itu
    mengakui KebenaranNYA.
    WHY?

    Karena hati yg keras seperti batu, harus dilunakkan dengan cara yg keras seperti itu.
    Sebuah baja akan lumer jika dibakar dalam suhu ribuan derajat.
    Oleh karen itu, janganlah kita apriori dulu dalam melihat suatu hal, asal kita mau merenung sejenak…
    pasti kita akan mendapatkan hikmahNya.

    “Kemanapun engkau menghadap, disitulah wajah Alloh”
    Dimanapun kita menjalani kehidupan, pasti
    Alloh akan tunjukkan jalan2 Kebenaran.

    Kita menghadap ke Barat, keutara, keselatan dan ketimur… banyak nilai2 Islami yg bisa kita pelajari.
    Pak Helmy setiap hari mengendarai mobil atau motor…itu ilmu dari barat.
    Nonton TV, main game dan Internet…itu juga ilmu dari barat.
    Saya juga yakin kalau ‘jenis pakaian’ yg dipakai pak Helmy juga tidak pernah dicontohkan oleh Rasul, iya kan ?
    Tidak perlulah kita kuliah kedokteran, karena yg ngarang bukunya orang barat.
    Belajar Arsitektur, mekanikal, komputer tidak perlu, karena yg ngarang bukunya orang Barat.
    Kita kekantor, ke mall, ke pesta, berlibur ke Bali, makan Bakso Bang Erik, makan Surabi Bandung….
    dan terlalu banyak budaya sekarang yg tidak pernah dicontohkan oleh Rasul,
    apakah semua itu tidak ISLAMI ?
    Kecuali pak Helmy ingin hidup seperti jamannya Rasulloh, ya monggo saja,
    ndak ada yg ngelarang koq !
    Itu juga baik!
    He..he..he…

    Pak SHP ini loh…suka sekali memungut HIKMAH yg bertebaran disekitarnya,
    mungkin kalo ada ditong sampah pasti akan diambilnya juga, iya nggak pak?

    salam

    Suka

  • avatar Eko Sutrisno HP

    hmmm mbak Evie demen ya sama Revalina ya

    makasih komentarnya

    salam

    Suka

  • avatar Tidak diketahui

    filmnya bgusssssss bgt…………………………………..

    Suka

  • avatar Eko Sutrisno HP

    @Helmy
    bener pak Helmy
    ini memang film biasa-biasa saja yang kebetulan setingnya memakai pondok pesantren

    jadi ini hanya tontonan dan bukan tuntunan

    Salam

    Suka

  • avatar Helmy

    kmaren aku dah nonton

    “Bagi yang ingin menonton film ini, berangkatlah dengan anggapan bahwa kita akan melihat suatu tontonan dan bukan tunutunan.”’

    isina ga islami bgt. klo film islami tu setidaknya pake AlQuran n Hadits bwt dasar pa yang dilakukan. bukan buku2 dr barat!

    Suka

  • avatar Eko Sutrisno HP

    @Mas Mus

    film ini cocok ditonton oleh kaum wanita
    kalau cowok ya mubah deh…

    @Hamka
    iya ya…

    Suka

  • avatar hamka

    cantik ya… 🙂

    Suka

  • avatar Mus_

    kemarin diajakin nonton ini.
    Tapi ndak jadi, karena ndak saya ndak suka sama posternya. Hahahaha.. kurang menarik menurutku. (ya subjektif, sih..)

    Tapi mas, film ini sampeyan rekomendasikan ndak? Setidaknya, buat saya yang belum nikah. Hahahaha…

    Suka

  • avatar Eko Sutrisno HP

    Mas Ariebp

    he..he..he…
    iya deh
    belum tentu ya…?

    Suka

  • avatar watonmuni

    “Kalau suka laskar pelangi, maka pasti suka juga dengan film ini.”
    masak sih mas??

    Suka

  • avatar Ani

    Hmm…bagus yak filmya ? Malah belum nonton…wong pilihan si ABG dan papanya pas tahun baru malah jatuh ke Transporter 3… Thanks mas ulasannya.

    Suka

  • avatar Eko Sutrisno HP

    makasih buat mas Andy dan mas Suryaden

    hmmm ……
    nagabonar memang masih yang paling joss ya bagi penonton laki-laki

    Suka

  • avatar suryaden

    sekarang sepertinya udah nggak gitu deh, bisa aja klalo difilm, adegan dan cerita harus membawa penonton ke arah yang diinginkan agar lebih memahami dan mengerti kampanye yang dibawanya….

    Suka

  • avatar Andy MSE

    saya pilih nagabonar, baik ketika baru satu maupun ketika jadi dua… TOP

    Suka

Tinggalkan Balasan ke eshape Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.