Untuk Ibuku Tercinta


“Eh ..bener ya kemarin hari Ibu?”

“Iya..emang kenapa?”

“Aku inget Ibu di kampung mas. Baru nyadar ketika ndengerin radio Dakta tadi pagi”

“Oooo…emang nyiarin berita apa?”

“Bkan beritanya yang kudengarkan, tetapi bahwa ternyata kemarin hari Ibu itu yang membuatku jadi inget kala aku masih kecil dulu. Kayaknya aku lebih banyak membuat susah ibuku daripada membuatnya senang”

“Oooo…aku kenal Ibumu kok, menurutku dia sangat bangga padamu. Kamu sudah sarjana dan sudah punya kehidupan yang baik, bukankah itu suatu hal yang bisa membuat ibumu senang?”

“Ada cita-citaku untuk ibuku yang belum kesampaian mas”

“Apa itu?”

“Aku ingin sekali menghajikan ibuku tapi sampai hari ini aku masih saja belum mampu mewujudkannya”

“Kalau soal itu ibumu pasti maklum deh. Kamu sendiri kan belum bisa naik haji, bagaimana mau menghajikan ibumu. Syukuri saja hidup ini, jangan pernah menyerah dan pasti nanti tahu-tahu kamu akan naik haji, syukur bareng ibumu. Insya Allah. Amin”

“Kayaknya nggak mungkin mas”

“Ups…jangan pernah bilang nggak mungkin. Semua itu mungkin. Kun fayakun, maka jadilah !”

“Tapi …”

“Percayalah padaku. Semua kejadian di muka bumi ini pasti mungkin terjadi bila dikehendakiNya”

“Iya sih, tapi aku kadang masih ragu…”

“Apa yang kau ragukan lagi? Meski kamu belum naik haji kan kamu pasti sudah paham apa saja nikmat Tuihan yang telah kamu terima. Lalu nikmat mana lagi yang kamu dustakan”

“Kok jadi mbahas nikmat Tuhan yang kudustakan sih? Kita kan baru mbahas kemungkinan naik hajinya ibuku?”

“Habis kayaknya kamu pesimis banget sih. Padahal nikmat Tuhan itu ada di sekeliling kita dan sering tidak kita sadari keberadaannya. Isinya ya kita hanya bisa mengeluh terus”

“Aku kayaknya banyak dosa deh…”

“Lho malah sekarang kamu yang keluar dari konteks”

“Iya akhir-akhir ini banyak sekali cobaan yang kurasakan dan aku masih belum yakin apakah ini ujian atau peringatan dariNya”

“Bukannya sama saja tuh peringatan sama ujian?”

“……”

“Coba saja kamu anggap semua kejadian itu sebagai peringatan, maka temukanlah apa yang bisa kau perbaiki. Selesai kan?”

“……..”

“Bisa juga kamu anggap itu sebagai cobaan dan temukanlah apa yang bisa kau lakukan untuk mengatasi cobaan itu. Kukira yang kau temukan nanti bisa jadi sama..”

“…..”

“Jadi apapun sikap kita terhadap kejadian yang menimpa kita, bisa saja kita nggap cobaan dan bisa juga kita anggap peringatan. Hasilnya adalah pencarian jati dirimu akan perlunya selalu bersyukur padaNya…”

“……”

“Kamu kok diem saja…?”

Ibuku sedang sakit di kampung Jo

“Oooo …. sakit apa?”

“Sakit sepuh yang dokterpun tidak bisa menjelaskannya dengan gamblang padaku”

“Maksudnya…”

“Setiap hari selalu saja memberikan kabar yang berbeda-beda, tetapi intinya semua itu memerlukan penanganan yang berbeda, baik peralatan maupun obatnya dan kami sangat tidak tega melihat ibu kami yang badannya penuh dengan selang-selang yang menempel”

“Terus…”

“Kami sekeluarga jadi bingung dan pasrah pada Dokter yang kuyakini pasti sudah melakukan hal yang terbaik pada ibu kita”

“Terus masalahnya apa?”

“Saat aku sakit dulu, rasanya ibu selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan kasihnya untuk menyembuhkan aku. Sekarang kami semua dibuat bingung dengan sakitnya ibu. Mengapa kok kami hanya bisa bingung? Bukankah ini suatu hal yang bertolak belakang?”

“Memang kamu tidak melakukan apa-apa terhadap sakitnya ibumu?”

“Aku hanya bisa pasrah dengan keputusan dokter saja. Nasihat para ustadz kurang lebih juga begitu. Surat Yaasin juga sudah kubaca tiap hari, tapi rasanya masih ada yang kurang”

“Menurutku, coba kamu telaah lagi, apa saja yang masih bisa kau lakukan. Jangan pernah takut dengan rejeki Allah, kekayaanmu itu tidak ada artinya dibanding dengan kasih ibumu, sejak kamu dilahirkan sampai menjadi seperti ini. Keikhlasanmu menghadapi semua ini akan diberi balasan setimpal oleh Allah swt. Insya Allah. Amin”

“Amin”

Aku merenungkan terus obrolanku pagi ini dengan Mas Parjo, tak sengaja kulihat sebuah tulisan dari sebuah blog tentang sebuah puisi buat Ibu tercinta.

“Ya Allah…
Izinkanlah aku berbakti pada ibuku
Walau cuma sekali dalam hidupku
Sebelum kau pisahkan aku dengan ibuku…”

Semoga Allah menunjukkan hikmahNya pada kita semua. Amin.

+++

Tahun 1995, ketika semuanya masih lengkap menemaniku. Mbah Uti nempel di kananku dan mbah Kung yang kupakai sebagai cover Pak Dhe ngeblog di sebelah kiriku. Saat ini kedua orang tuaku sudah tiada. Ibuku akhirnya meninggal dengan tenang di RS JIH Jogjakarta. Istri adikku yang setiap hari menemi beliau, karena aku harus ke Jakarta dan hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh dokter RS JIH. Biaya yang kita keluarkan sangat banyak, tetapi tetap saja rasanya kasih ibu masih jauh lebih besar dibanding biaya yang kita keluarkan.

Buat yang masih punya orang tua lengkap, sayangilah ke dua orang tuamu, sebelum kalian tidak bisa lagi memberi kasih sayang pada orang tua kalian. Cukup aku saja yang menyesal masih kurang berbakti pada ke dua orang tua yang sangat mencintaiku. Orang tua kita itu, makin dikenang makin menyesal kita akan segala tingkah laku yang pernah kita perbuat di depan orang tua kita.

Hari ini saatnya lebih berakti pada orang-orang dekat kita. Orang tua dan orang-orang yang lebih tua dari kita.

+++

sumber gambar disini

+++

16 komentar

  • jadi kangen mama…. *_*

    *ibu yeni cantik sekali difoto ini ^^

    Suka

  • Ping-balik: Derita Ibu Bekerja | Komunitas Blogger Bekasi

  • makasih komentarnya ya mbak Yenni
    ini kok namanya sama dengan istriku
    tapi bukan istriku kan?

    salam

    Suka

  • Kasih ibu memang sepanjang masa.. tak tergantikan oleh apapun dan siapapun.
    Selamat hari ibu ya

    Suka

    • Makasih ucapan doanya
      Amin

      Suka

      • kasih sayang ibunda tiada batas_a siang malam di jaga_a di pangku dan di timang _a dengan kasih sayang_a, bila di malam hari ibu tetap berdo’a “bila kau dewasa nanti hidup mu akan berjasa untuk nusa dan bangsa …oh , tuhan ku …yang maha kaya limpah kan kurnia mu pada_a panjang kan umur rendah rezki_a yang utama sifat jujur dan setia jangan lupa ..

        Suka

  • Saia turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian Ibunda pak eko. Semoga beliau diterima di sisi-Nya. Amin

    Suka

    • Makasih sahabat Baru dari Beblog yang ganteng dan penuh kharisma

      Semoga doa kita diterim aAllah swt
      Amin.

      Salam

      Suka

  • Innalilahi wa innalilahi rojiun
    saya dan sekeluarga turut berduka cita atas meninggalnya ibunda pak eko,
    semoga diterima segala amal kebaikan dan diampuni segala ke khilafan.
    Semoga keluarga yang ditinggalkan ikhlas , sabar & tabah menerimanya…

    Suka

    • Makasih pak Samsudin

      Senang melihat bapak selalu setia menemani keluarga kami dalam melakukan apa saja

      Salam buat keluarga pak

      Suka

  • Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

    Semoga Mbah uti diterima amal ibadahnya. Diampuni dosa-dosanya.
    Yang ditinggalkan diberi kekuatan hati.
    Amin.

    Suka

    • makasih doanya pak Ipung
      Sahabat yang tidak kusangka kutemui di Cikarang

      Semoga doa kita diterima Allah swt
      Amin

      Salam

      Suka

  • aku sekeluarga punya pengalaman yang sama ketika ibu sakit. sampai koma beberapa hari. dan akhirnya ibu harus pergi menghadap Nya. aku sekeluarga ikhlas. sampai akhirnya, ada niatan dari ibu yang belum tersampaikan, yaitu tindak haji.maka, di tahun 2007, ketika aku dan suami berangkat haji, alhamdulillah, keluarga sepakat kita menghajikan ibu.
    itulah kebahagiaan aku sekeluarga, melihat bahwa ibu pun sudah tindak haji menunaikan rukun islam ke lima. insya allah sempurna…begitu harapan aku sekeluarga.
    jadi, tetap bersemangat, yakin bahwa Allah akan memberikan kita sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya. amiin

    Suka

    • Mbak Sier

      Makasih “sharing”-nya
      Bener kata mbak Sier, ini seperti seuatu hal yang sangat luar biasa dan tidak terduga

      Dari segala penjuru, saudara dan teman kami berdatangan ikut menyaksikan prosesi pemakaman mbah Uti kami

      Tadinya ingin tidak menitikkan air mata, tetapi air mata itu mengalir dengan sendirinya, melihat saudara-saudara kami yang tidak kujumpai saat lebaran kemarin ternyata hari ini mereka datang untuk menyaksikan proses pemakaman mbah Uti

      Bu Dhe terlihat masih sangat sehat, para sesepuh lain yang terlihat sudah sepuh, tetapi masih mau menempuh perjalanan yang begitu jauh hanya untuk menyaksikan prosesi ini

      Subhanallah

      Suka

  • mas… apa kabar ?? apa kabar ibu ? udah baikan belum ?? sebenarnya wahyu kangen ibu, kemarin tanggal 18-20 ke yogya tapi nggak bisa negok ibu karena wahyu sendiri sakit flu berat, takut menulari ibu. semoga Allah memberi yang terbaik buat ibu, diperingan segala cobaannya dan dimudahkan segala urusannya. amin. ya robbal alamin

    Suka

    • mas Wahyu,
      Mbah Uti akhirnya menghadap padaNya pada hari Selasa, 22 Des 2009, jam 8.45

      Ini yang terbaik buat mbah Uti.
      Insya Allah
      amin

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s