The Tourist (resensi film)


Ini memang bukan film terbaik dari Angeline Jolie maupun Johny Depp, tapi tetap layak tonton. Apalagi kalau senang dengan model cerita yang penuh misteri ala Agatha Christie atau Sherlock Holmes. Inilah film yang cocok.

The Tourist

“Kok gak ada action yang benar-benar memukau ya?”

“Hehehe… ini bukan film Expendables, meski ada pemeran James Bond di film ini. Ini film yang ngakali kita sehingga kita tertipu sampai di akhir cerita”

Semua cerita ini berawal dari perjumpaan tokoh utama (Frank) dengan gadis cantik Elise (Angelina Jolie). Dunia bagi Frank yang hanya seorang wisatawan (The Tourist) berubah total semenjak dia kenal dengan Elise.

Guru matematik yang baru saja kematian istrinya ini harus menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan dunianya sehari-hari. Bahkan dia harus rela berjibaku untuk mengjhindari terjangan peluru dari para mafioso. Benar-benar dunia yang sangat berbeda dengan dunianya dulu.

Akal-akalan seorang biang penjahat yang dicari di beberapa negara telah membuat Frank disangka sebagai sang penjahat yang sudah berganti wajah. Apalagi ketika Angelina Jolie menciumnya, maka semua mafiosopun mengejar Frank yang disangka sebagai sang penjahat.

Cerita makin seru ketika ternyata Angelina Jolie merasa telah terlalu jauh melibatkan Frank dalam kehidupan pribadinya, sehingga timbul rasa kasihan dan Elise mencoba mengusir Frank dari kehidupannya.

Bukannya lari karena takut peluru, Frank justru kembali membuntuti Elise dan bisa ditebak. Frank kembali masuk dalam adegan yang tidak lazim dialami oleh seorqang guru matematik.

Cerita menjadi sedikit aneh ketika ternyata Elise adalah agen rahasia yang bertugas untuk menangkap sang biang penjahat, tapi lupakan keanehan itu agar kita bisa menikmati sensasi kegiatan para agen rahasia dalam menangani sebuah kasus.

Cerita yang agak lambat ini akhirnya mencapai klimaksnya dengan sebuah adegan yang bikin para penonton merasa tertipu di sepanjang film diputar. Jadi kalau mau nonton film ini sebaiknya jangan sampai ketinggalan di awal film. Akan banyak hal yang terlewat atau tidak mudah dipahami kalau kita menontonnya terlambat.

Mau nonton? Mau cerita yang bikin senyum kecut (karena tertipu) di akhir cerita? Maka silahkan tonton film ini dan jangan sampai ketinggalan nontonnya.

Bagi penggemar Angeline Jolie kayaknya harus nonton deh. Meskipun Angeline Jolie tidak tampil secantik biasanya, tapi masih menarik bagi penggemar setianya.

sumber gambar : Facebook the Tourist dan foto pribadi di “21”

15 komentar

  • Saya setuju dengan “ini bukan film terbaik, tapi layak tonton”.. saya cuma mau sarankan untuk coba cari film aslinya yang versi Prancis (“Anthony Zimmer”, 2005).. Film itu memang agak lebih memusingkan dan lebih membosankan dibanding “The Tourist”, tapi ‘sensasi’ (saya menggunakan istilah dalam resensi Anda) tertipunya lebih terasa. Bahkan sepanjang film sempat terpikir bahwa tokoh Anthony Zimmer (Alexander Pearce dalam “The Tourist”) adalah tokoh fiktif. Itulah yang membedakan film Prancis dan film Hollywood. Film Hollywood menuntun penontonnya hingga mengetahui endingnya dengan jelas, sehingga penonton dengan pikiran kosong pun akan merasakan sensasi tertipunya, sedangkan film Prancis mengajak penonton untuk menebak sendiri alurnya. Keduanya sama bagus karena memang sama persis dengan kemasan yang berbeda saja. Selebihnya tinggal selera penonton.
    Yang saya sayangkan adalah “The Tourist” me-remake “Anthony Zimmer” dengan sama persis. Menurut saya, seharusnya “The Tourist” membuat sesuatu agar filmnya dapat lebih unggul. Alasannya adalah karena penonton yang sudah menonton “Anthony Zimmer” terlebih dahulu akan mengetahui ‘misteri’ yang ada dari awal film karena sama persis. Bayangkan “The Tourist” tayang di Prancis sendiri! Contoh remake yang baik walau hasilnya tidak terlalu bagus adalah “Taxi”. Salah satu yang dibedakan adalah supir taksinya yang pada film Prancis adalah seorang pria, sedangkan pada versi Hollywood diperankan oleh Queen Latifah. dari segi cerita pun ada beberapa perbedaan. Itu dapat dikatakan baik padahal itu cerita drama komedi. Sayang rasanya bila drama misteri yang penuh tekateki semacam “The Tourist” me-remake sama persis dari versi aslinya.

    Bila berkenan silakan kunjungi blog saya yang masih tergolong baru dalam dunia ini, mohon bimbingannya untuk meresensi film. Terima kasih.
    http://kritikpenonton.wordpress.com/

    DJD

    Suka

    • Wow..

      Bagus sekali komentarnya mas. Sama atau sebagus resensi mas di blog http://kritikpenonton.wordpress.com/

      Semua yang ditulis sangat sesuai dengan apa yang ada dalam benak saya. Contoh tentang film TAXI juga sangat tepat. Ini menggambarkan luasnya pengetahuan Anda.

      Blog anda akan jadi salah satu panutanku untuk atau sebelum nonton film.

      BTW aku lebih terpesona sama Sophie Marceau dibanding Angelina Jolie lho…

      Salam sehati

      Suka

      • Terima kasih, Mas.. saya tersanjung,,, mohon bimbingannya dengan berbagi pengalaman agar saya bisa menulis lebih baik lagi ke depannya. Untuk sementara mungkin saya akan jarang update blog karena lagi fokus pada skripsi.. hi hi hi

        Suka

  • wah jadi penasaran pengen nonton nih hehe

    Suka

    • must be seen

      salam sehati

      Suka

  • jooss ghandoosss pakde eko dalam mengatur waktunya…

    Suka

    • kan pak Ipung yang ngajarin
      hehehe..

      salam sehati pak Ipung

      Suka

  • Belum sempet euy nontonnya..keburu lahiran

    Suka

    • hehehe…
      kalau sempat boleh deh nonton berdua

      salam sehati

      Suka

  • Om Eshape..
    ada adegan yang sepertinya dipaksakan, yaitu pas elise naik kereta dan bertemu dengan Frank Tupelo, kenapa dipaksakan? lah kan diakhirnya kita ketahui bahwa Tupelo itu ialah Alexander. kok bisa kebetulan yang aneh, padahal di kereta itu kan banyak penumpangnya..hmmm

    namun secara keseluruhan film ini menarik, walaupun klimaksnya biasa aja..hehehehe dan masak si mafia dan orang rusianya matinya mudah, hanya sekali tembak aja šŸ˜¦

    Suka

    • Salam.

      Mas THS, komentarnya tak masukin di Kompasiana tuh
      http://hiburan.kompasiana.com/film/2011/01/19/film-tourist-dari-kacamataku/

      Hehehe..
      aku sependapat dengan komentarnya

      Salam sehati

      Suka

    • adegan awal itu meniru persis versi aslinya (“Anthony Zimmer”). Bila ada kesempatan melihat versi aslinya, logikanya lebih terasa masuk akal. Menurut yang saya tangkap, hal itu karena selama berhubungan (pacaran) Elise hanya menerima uangnya saja dari Alexander Pearce dan dia tidak pernah bertemu sama sekali, sehingga Elise pun tak tahu wujud AP itu seperti apa.

      Suka

      • Yes !
        mas Jirodanusastro memang pakar resensi pilem

        salam sehati

        Suka

      • Mas Eshape berlebihan.. saya bukan pakar.. kalo saya pakar saya udah males ngeliatin tulisan orang lain. Justru saya masih belajar dalam dunia ini karena saya masih baru lahir di dunia kritik film semacam ini.

        Suka

  • Ping-balik: Tweets that mention The Tourist (resensi film) Ā« Dari "Kaca Mata"-ku -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s