Anak SD belajar Jualan


“Bapak cepet pulang ya, kita harus beli-beli nih untuk jualan besok”, kata LiLo di ujung telepon, ketika aku baru selesai kursus bahasa Inggris [he..he..he… masih semangat kursus nih yeeew!]

pohon duit

Akupun menyanggupinya, sambil berpikir untuk nelpon istri agar segera pulang, karena jarak istri ke rumah kayaknya lebih dekat daripada jarak aku ke rumah. Meskipun sudah malem, jalan relatif lebih sepi, tapi kalau ngantuk, ya nyetirnya nggak bisa kenceng-kenceng, harus tetap hati-hati dan waspada. Jangan ngebut, jaga etika berkendara !

Sayangnya istriku gak bisa dihubungi [nada sibuk terus], terpaksa pulang dengan sedikit ngebut. Kasihan LiLo sudah nunggu di rumah dan kalau kemaleman tokonya bisa jadi sudah tutup.

Sampai di rumah suasana sudah kacau balau. Begitu buka pager rumah, LiLo langsung masuk mobil dan dengan suara terisak sudah duduk disampingku dan lupa tidak membuka pager secara utuh, sehingga aku belum bisa masuk rumah, menunggu kakak LiLo membuka pintu pager sampai bisa dilalui mobil.

“Ibu nggak mau ngasih uang 20 rebu untuk beli-beli pak”, begitu laporan LiLo sambil masih dengan terisak.

Yah, latihan sabar lagi nih.

Akupun langsung masuk kamar dan berbaring di kasur.

“Siapa mau cerita duluan, sebelum aku tidur nih”, kataku seperti biasa [mungkin anakku sudah bosen dengan gayaku ini].

Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku sedang capek, pulang malem dan perl segera istirahat, jadi jangan ada yang ngambek, sehingga masalah segera selesai.

Mulailah ibunya LiLo cerita, kemudian LiLo menyela disana-sini. Akhirnya kuputuskan untuk sependapat dengan ibunya.

Kuminta LiLo membuat daftar belanjaan dan kuantar ke toko kesayangannya. Eh, rupanya LiLo masih ngambeg, dia nggak mau mbawa kertas untuk nyatat belanjaannya.

Ya udahlah, biar jadi pelajaran buat Lilo.

Bener juga, di toko itu LiLo sibuk mondar mandir kesana-kemari untuk nyari barang yang mau dibeli dan mencoba mencocokkan agar jumlahnya tepat 20 rebu.

“Pak kalau satu biji 2.700 kalau tiga biji berapa ya?”

“Kala ditambah 9 rebu jadi berapa pak?”

Halah, LiLo malah ngasih kerjaan aku.

Akhirnya semua barang ditaruh di kasir dan ditotal pakai mesin, Keluarlah angka 34 rebu. LiLopun tersenyum malu dan akupun tidak usah membahasnya, karena liLo sudah menyadari kesalahannya.

Pembahasan kesalahan yang sudah jelas tidak akan mendukung terciptanya suasana harmonis, jadi kuajak LiLo pulang dan kuserahkan proses selanjutnya pada ibunya.

“Oke, sekarang kita isi kolom pembelian dan kolom penjualannya”, kata ibunya.

“LiLo mau pasang untung berapa?”, begitu kata ibunya dan kami semua menonton proses penyusunan keuntungan penjualan itu.

Besoknya aku mendapat laporan dari ibunya dan kakak LiLo, bahwa penjualan LiLo rugi besar. Rupanya karena nggak laku dan pingin segera habis jualannya, maka LiLo melakukan obral diskon, sehingga uang yang masuk malah di bawah uang untuk membeli barang yang dijual.

He…he…he… dasar LiLo.


ditulis oleh penulis tamu eko.eshape@gmail.com

[sampai berita ini ditulis, LiLo belum lapor hasil penjualannya, dia masih sibuk dengan PR matematikanya, sementara kakak-kakaknya sudah meminta LiLo untuk mempertanggung jawabkan penjualannya]

4 komentar

Tinggalkan Balasan ke eshape Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.