Master Arem-arem

Siluet Sanur Bali

“Mas Eko ada dua master dalam perjalanan Jogja Bali. Yang satu Master Cerita lucu dan satunya master arem-arem yaitu bu Eko”, ucap pak Njoto ketika menyalamiku di resto, saat makan malam di Bali.

Aku tentu saja bingung dengan sambutan seperti ini. Tidak biasanya pak Njoto bicara menggebu-gebu seperti ini. Panggilan master arem-arem ini kembali muncul dalam perjalanan dari resto Ayam Betutu ke hotel tempat kita menginap. Kali ini pak Djoko Luknanto yang menyampaikannya, saat mengucapkan sambutan mewakili rombongan Gowes Jogja pada rombongan Gowes Jakarta.

Perkenalan di BUS Jogja Bali

Perkenalan di BUS Jogja Bali

Istriku tentu tersipu-sipu mendengar sebutan itu. Semua itu gara-gara saat perkenalan di bus istriku tidak hanya bercerita tetapi juga membagikan arem-arem yang masih hangat pada semua peserta gowes Bali di bus itu. Tidak tanggung-tanggung, selain arem-arem ada juga martabak dan lemper eksport dari Jogja yang sudah terkenal citra rasanya. Lemper yang dibawa istriku memang produk dari seorang kawan di KULINUS yang sering melakukan kiriman makanan lemper ke luar negeri.

Perjalanan selama 30 jam, Jogja-Bali, jadi penuh dengan canda tawa. Bahkan ketika para penjemput sudah kecapekan menunggu, mereka masih terlihat segar ketika turun dari bus dan harus berjalan kaki menuju resto karena penuhnya parkir di sekitar resto.

Hari pertama gowes Bali

Hari pertama gowes Bali

Acara gowes hari pertamapun tidak sesuai rencana. Yang tadinya akan diikuti oleh seluruh peserta ternyata hanya bisa diikuti oleh rombongan Goweser dari Jakarta plus rombongan dari Jogja yang naik pesawat. Untung ada beberapa sepeda yang disiapkan panitia, sehingga mereka yang sepedanya masih belum sampai di Bali karena masih di atas truk dan masih dalam perjalanan dari Jogja ke Bali bisa memakai sepeda panitia dulu.

Paginya acara gowes secara resmi dimulai dan diikuti semua peserta. Pagi itu juga aku baru ngeh tentang sebutan Master Arem-arem, karena semalam sudah diceritain sama istri tentang asal muasal julukan itu. Malam yang indah di Bali, berdua bersama istri menginap di pinggir pantai dan bisa menikmati terbitnya matahari pagi di depan kamar.

Siluet Sanur Bali

Siluet Sanur Bali

Perjalanan ternyata tidak semulus yang diperkirakan. Banyak peserta yang gugur di tanjakan pertama arah GWK dari Sanur. Tentu yang menyerah pertama kali adalah kaum ibu-ibu yang tidak terbiasa dengan rute menanjak seperti ini. Akibatnya menular ke bapak-bapak yang jadi ikutan manja dan naik bus menuju GWK.

Peserta #Gowes Bali Narsis berjamaah

Peserta #Gowes Bali Narsis berjamaah

Sempat narsis berjamaah di GWK, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Dream land. Pantai yang sangat panas dan begitu terbuka. Tidak ada kendaraan yang boleh parkir di dekat pantai, semuanya parkir di tempat yang jauh dari pantai. Bagi yang ingin duduk-duduk di tepi pantai dipersilahkan memilih kursi yang masih kosong. Sebentar duduk, maka pasti sudah ada yang menghampiri untuk menawarkan pijatan ala cewek Bali.

Bagi yang ingin berteduh di warung harus rela membayar biaya minuman sebagai karcis masuk ke warung tersebut. Pak Njoto langsung memilih tempat yang paling nyaman dan langsung pijat untuk melemaskan otot yang tegang selama di perjalanan. Inilah satu-satunya peserta yang menaiki sepeda onthel, bukan sepeda biasa yang punya persneling.

Saat kita tinggalkan lokasi pantai Dream land yang panas ini, justru lokasi ini menjadi semakin ramai oleh wisatawan dari manca negara. Mereka rupanya sengaja memilih pantai yang panas agar kulit mereka terbakar. Beda dengan wisatawan domestik yang memilih berteduh ketika panas mulai menyengat.

Jam makan siang, para peserta langsung menyantapnya di bus  ataupun di Benoa bagi yang memilih terus naik sepeda. Selepas Benoa, hampir semua peserta kembali naik sepeda menuju Kuta dan kemudian malam hari mereka masuk ke hotel.

Total sekitar 85 km ditempuh dalam rute hari Minggu ini. Ada yang ikut full semua rute dan ada juga yang ikut sebagian rute. Sesampainyha di hotel aku langsung menuju kolam renang untuk membuat badan menjadi lebih segar, meskipun lebih capek. Malamnya kitapun bercengkerama bebas mensyukuri nikmat Tuhan di warung Ayam Betutu. Perjalanan yang sangat manis dan perlu diulang lagi entah tahun berapa.

Salam sehati.

Cervelo seberat kurang dari 10 kg

Cervelo seberat kurang dari 10 kg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s