Jejak Keraton Mataraman: Klinong-klinong di Kawasan Pleret
Komunitas KaRMaPIT Heritage klinong-klinong menelusuri jejak keraton Mataraman jadul di seputaran Pleret dan beberapa makam prasejarah yang ada disekitar situs purbakala yang saat ini kembali viral, minimal mengenang ulang tahun hari #purbakala yang ke 111 di Indonesia. Penggerak kegiatan ini adalah alumni antropologi UGM yang demen dengan budaya kejawen yang bernuansa muslim.
Dari kelompok kecil yang awalnya dari japrian dan kemudian membesar menjadi bahasan dalam salah satu channel yang ada di KaRMaPIT (Kagama Rame-rame Mancal PIT), itulah channel #heritage. Akhirnya disepakati acara heritage untuk tahun ini dijatuhkan pada bulan Juni 2024, bertepatan setelah acara hari Purbakala yang ke-111.
Peserta yang tadinya hanya beberapa gelintir saja, pada saat mendekati hari acara mendadak melesat naik dan tembus diatas 50 orang, pada hari H juga terbukti banyak peserta baru yang mendadak gabung karena tertarik dengan kandungan materi yang akan disampaikan oleh badan resmi purbakala DIY bagian Bantul.
Hari Purbakala Nasional memperingati peristiwa penting lahirnya lembaga induk di bidang kepurbakalaan yang menjadi akar dari eksistensi lembaga yang menjalankan fungsi kepurbakalaan pada saat ini. Yakni Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda (Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch – Indie) yang dibentuk pada tanggal 14 Juni 1913.
Nge-PIT bareng dengan tema heritage dan menelusuri jejak-jejak sejarah tentang kerajaan muslim kuno sebelum Indonesia merdeka, sangat menantang jiwa salah satu anggota komunitas KaRMaPIT dan itu membuatnya terus mancari link-link yang dapat memudahkan kita minimal sekedar tahu apakah ada perhatian dari dinas terkait dengan tema ini.
Keterbatasan lahan parkir dan banyaknya adegan poto di setiap tempat yang menarik, membuat waktu on saddle yang biasanya diperpanjang sampai 6:30, akhirnya malah dimajukan jadi jam 6:00. Tepat jam 6:00 para pesertapun sudah mulai memadati bunderan UGM, terutama di trotoar untuk parkir di sebelah timur area briefing.
Didahului dengan pembukaan berupa sambutan dari ketua KaRMaPIT mas BHS, tentang perlunya kita menjaga tertib lalin di jalan dan tetap jaga kekompakan tim saat memasuki area pemukiman padat yang jarang kita lalui. Biasakan “nderek langkung” ketika melewati kelompok penduduk yang baru saja selesai mandi dan berjemur di halaman masing-masing.

Sempat berhenti karena jalan disetop oleh masyarakat setempat, akhirnya rombongan tetap dapat memenuhi target sampai ke lokasi tujuan, meskipun ada beberapa jalan yang terpaksa langsung diganti dengan jalan alternatif. The show must go on begitu kata sang sutradara dan rombongan belakang terus saja merangsek maju tanpa tahu ada masalah apa saja di depan, karena semua sudah langsung diselesaikan oleh pelopor jalan.

Setelah selesai menanam beberapa pohon percontohan di areal pemakaman ratu Malang, beberapa puluh tanaman hijau lainnya ditinggal pada penduduk setempat untuk ditanam sendiri, tidak terlalu banyak sehingga diharapkan dapat dikelola oleh kelompok kecil yang bisa dipantau oleh korlap acara yaitu Mas Agus Hartanto.

Selepas acara penanaman pohon dilanjutkan dengan sarapan (kesiangan) plus pembagian DP dari donatur acara yang tergerak hatinya melihat semangat pengePIT yang tidak kenal lelah menyemangati heritage Yogya kali ini.
Pas adzan Dhuhur acara secara resmi ditutup di masjid Gede Kotagede. Semua peserta pun pulang ke rumah masing-masing dengan kenangan masing-masing.

