Kopi klotok

Kopi klotok pakem

Sudah ada tongkrongan baru di daerah Pakem, setelah sebelumnya hanya ada nama Warung Ijo untuk tempat nongkrong para pesepeda. Tempatnya yang berdekatan membuat Kopi klotok jadi “second opinion” ketika ingin mencoba rehat sejenak, sebelum nanjak Kaliurang atau sebelum kembali ke Jogja.

“Apa itu Kopi klotok ? Sama dengan Kopi joss ya ?”, kata temanku malam-malam.

“Beda antara kopi joss dan Kopi klotok”, kataku cepat,

“Kenapa malam-malam nanya kopi klotok?”, penasaran aku melanjutkan dengan pertanyaan balasan.

“Besok Gowes yuk ke kopi klotok, pernah kesana kan?”

Jadilah acara Gowes Sabtu pagi kutelusuri “Jakal” (Jalan Kaliurang) dan sebelum sampai Pakem, setelah UII dan setelah Jadah pak Carik, aku berbelok ke kanan, sesuai banner “Kopi Klotok” yang ada di pinggir jalan.

Kawanku langsung menikmati suguhan minuman jahe gepuk, hangat dan pedas, cocok untuk cuaca yang masih sejuk.

“Makanan untuk sarapan menunya mana?”, kata kawanku yang disambut senyum manis dan ramah dari penjaga kopi klotok.

“Jam segini belum ada yang bisa dihidang pak, nanti sebentar lagi kalau sudah masak saya kasih tahu”.

Halaman belakng kopi klotok

Halaman belakng kopi klotok

Sambil menunggu persiapan sarapan pagi, kami berfoto-foto narsis dan mengelilingi seluruh sudut kopi klotok. Memang yang baru ada hanya minuman dan makanan kecil yang masih dalam proses finishing sebelum dihidang. Jadah tempe belum ada tempenya dan jadahnya barusan selesai dipotong-potong.

Berbeda dengan Watijo (Warung Wijo) yang sudah ramai dengan snak pagi, pisang rebus atau aneka snak goreng, di kopi klotok suasana masih sepi termasuk pengunjungnya baru aku dan temanku.

“Sudah siang tapi kok masih sepi ya?”, kata temanku sambil menyeruput jahe gepuknya yang sudah hampir habis.

“Ya beginilah bedanya Warijo dan Kopi klotok, tapi sebentar lagi juga rame kok”, kataku menjelaskan.

Setelah beberapa kali ke dapur, barulah pengunjung mulai berdatangan, mulai dari rombongan sepeda MTB, sepeda motor maupun mobil. Makin siang suasana maik meriah dan semua kursipun sudah penuh dengan para pelanggan.

Menunggu nasi mateng

Menunggu nasi mateng

Pisang gorengpun mulai ada dan akhirnya nasi mulai matang, disusul dengan lauknya yang makin beragam. Gudeg ceker, kegemaranku, sayangnya sampai aku pulang belum juga terhidang. Yang jelas sayur lodeh unggulan sudah terhidang dan masih maknyus seperti biasanya.

Warijo dan Kopi klotok memang sama-sama cocok untuk nongkrong, sama-sama asyik dan guyub suasananya. Pengunjungnya sama-sama ceria dan seolah tanpa sekat, bebas lepas dan penuh kekerabatan, suasana kekeluargaan sangat kental di pagi ini.

Model pembayaran juga sama-sama berdasarkan azas kekeluargaan, saling percaya alias bisa dicurangi kalu makan dua ngakunya satu. Model duduknya juga bebas, mau pilih di dalam pakai meja dan kursi atau di luar tanpa meja, semuanya bebas.

Bedanya kalau di kopi klotok ini tidak disediakan tas kresek plastik, makanan hanya untuk dimakan di tempat, sementara di Warijo, boleh dibawa pulang.

Kuperhatikan juga di kopi klotok tidak disediakan tisu seperti lazimnya restoran, tapi disediakan lokasi cuci tangan yang bersih dan rapi.

Kalau diperhatikan, pengunjung kopi klotok ketika sudah mulai ramai, didominasi oleh pengendara mobil, sehingga ketika lokasi parkir penuh, maka parkir mobil memenuhi jalan di sekitar warung kopi klotok. Disusul kemudian pengendara sepeda motor yang menempati urutan kedua dalam jumlah. Yang terakhir adalah pengendara sepeda yang cuma beberapa gelintir saja.

Memang kopi klotok sangat murah bagi pengendara mobil yang mencari tempat klasik Jogja dengan suasana pedesaan, makanan khas jogja dan model pembayaran yang berdasarkan azas kekeluargaan. Jadi kalau diprosentase, pengunjung hari ini adalah 60% menggunakan mobil, 30% menggunakan sepeda motor dan sisanya yang mempergunakan sepeda.

Bagi orang luar kota Jogja, tempat ini sangat cocok untuk dipakai sebagai tujuan wisata kuliner, sedang warijo lebih cocok bagi para goweser darimanapun asal daerahnya.

Kopi klotok pakem

Kopi klotok pakem

 

4 komentar

  • Ping-balik: Alun-alun kidul | Blogger Goweser Jogja

  • Ping-balik: Kuliner Pakem Jogja - Pusat Pelatihan Mie Ayam (Hijau) SEHATI

  • Asli daerah utara Bp, Blora

    Disukai oleh 1 orang

    • Salam.

      Mampir mas, dolan Kaliurang mampir Kopi Klothok atau jadah Tempe mbah Carik šŸ™‚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s