Gowes Minggu Pagi

Minggu pagi harus semangat

Ketika komunitas gowesku membelah Jakarta, bersantai ria di beberapa ruas jalan menuju Ancol, aku justru masih berada di Puncak untuk berbagi cerita dengan beberapa personil Waskita yang ada dalam komunitas Keuangan plus Human Capital. Gowes Minggu pagi ini, dalam bayanganku, pasti akan sangat berkesan karena akan ada acara belajar naik sepeda indoor, sebuah kenikmatan baru bersepeda di dalam rumah.

Menikmati Jalan kaki di Puncak

Menikmati Jalan kaki di Puncak

Meluncur dari Puncak pada pagi hari, aku langsung menuju parkir sepeda untuk menyiapkan sepeda Polygon Heist, andalanku untuk menjelajah rute bersepeda kemanapun, asal bukan rute ekstreem. Kemarin ada tiga kali aku masuk lubang dan akibatnya ban depanku bocor alus dan hari ini harus ganti ban dalam agar kembali bisa beraksi.

Ganti ban depan di RodaLink

Ganti ban depan di RodaLink

Langgananku Rodalink SCBD sudah kukontak, sehingga begitu sampai lokasi, langsung ditangani dengan cepat dan dalam waktu beberapa saat sudah siap untuk digowes kembali. Menunggu beberapa saat, Heist sudah ganteng karena dibersihkan luar dalam. Kumonitor komunitasku ternyata sudah selesai bersepeda ria ke Ancol, bahkan sudah sampai pada sesi bubur “Laota” Pecenongan. Akupun langsung mengayuh sepeda menuju Cawang, sarang Goweser WSKT. Barangkali masih sempat ngobrol dengan beberapa pesepeda yang mampir ke Cawang.

Baru setengah jalan mengayuh sepeda, terdengar bunyi ban meletus dan langsung kurasakan kayuhanku bermasalah, menjadi tambah berat dan tidak stabil. Rupanya ban sepeda belakang gantian yang kehabisan angin. Terpaksa acara gowes Minggu pagi berubah menjadi tuntun sepeda Minggu pagi.

Mampir buah segar di depan Stasiun Cawang

Mampir buah segar di depan Stasiun Cawang

Padahal sebelum ban meletus, aku sempat menyalip sebuah sepeda balap RB (Road Bike) ketika melaju di tanjakan Pancoran. Begitu ban meletus dan beberapa sepeda gantian menyalipku, maka mereka mungkin mengira aku sedang menunggu mereka menyalip dan kemudian gantian menyalip. Aku tersenyum kecut, bagaimana bisa menyalip dengan kondisi ban belakang tanpa angin !:-)

Beberapa saat kemudian, beberapa goweser yang barusan pulang dari acara Car Free Day (CFD) Jakarta melewatiku. Sebagian menyapa ramah, sebagian hanya tersenyum melihatku menuntun sepeda menuju arah Cawang. Salah satu kakek-kakek yang menyalipku bahkan akan meminjamkan sepedanya untuk bisa kupakai, akupun menolaknya dengan senyum saja, maklum aku juga sedang menikmati menuntun di terik matahari Jakarta.

menikmati Minggu pagi yang indah

menikmati Minggu pagi yang indah

Gowes Minggu pagi sudah kunyatakan gagal dan aku harus mencari alternatif lain untuk jangan kecewa di hari Minggu yang indah ini. Begitulah, kuputuskan acara gowes Minggu kuganti dengan acara nuntun sepeda. Strava yang tadinya sudah kumatikan, kembali kuhidupkan dengan mode jalan kaki. Aku juga menghidupkan ARGUS dalam mode jalan kaki dan sebelum memulai jalan kaki, aku masih sempat mengukur Heart Rate dulu. Terbaca angka 100 beat per minutes (BPM) dan rasanya siang panas ini akan membuat perjalananku menjadi tantangan tersendiri.

Benar saja, baru berjalan nuntun sepeda sekitar 1 km, hausnya sudah tidak tertahan lagi, padahal aku tidak membawa botol minuman. Jarak tempuh dari SCBD ke Cawang yang hanya 10 km kuanggap tidak perlu membawa botol minuman, sehingga akupun harus segera mencari sumber minuman untuk mencegah dehidrasi di siang yang semakin panas terik ini.

Ketika akhirnya kutemui gerobag dorong berisi buah segar, rasanya seperti ketemu sorga dunia. Kulahap sepotong semangka dan kunikmati keindahan Minggu pagi ini dengan kenikmatan air semangka yang amat sangat menyegarkan. Buah selanjutnya yang kulahap adalah buah pepaya, rasanya kembali masih sangat nikmat. Sungguh aku merasa bocor ban ini justru mendatangkan kenikmatan lain dalam hidupku. Aku kembali ingat kejadian di Puncak saat aku bercerita tentang nikmatnya melahap timun di kebun timun. Kejadian itu terulang lagi hari ini. Makan buah serasa minum air buah yang sangat menyegarkan.

Final lunch Minggu pagi : Bebek Goreng

Final lunch Minggu pagi : Bebek Goreng

Melanjutkan perjalanan nuntun sepeda, akhirnya aku melewati Bakso pak Kumis. Nama warungnya memang terkenal sebagai bakso pak Kumis, tetapi yang dijual aneka menu makanan dan salah satunya adalah Bebek Goreng. Langsung saja mampir dan memesan satu porsi Bebek plus minum Kelapa Muda Jeruk. Lengkap sudah kenikmatan siang ini. Final lunch Minggu pagi kali ini adalah Bebek goreng !

Sampai di Cawang segera kuparkir sepeda, sholat Dhuhur dan bersyukur menikmati hari yang indah meskipun penuh cobaan. Besok akan ada hari yang lain lagi dan akan muncul cobaan yang berbeda. Bila aku sanggup menghadapinya dengan baik, maka aku akan bisa menikmati hidup ini dengan hati yang riang gembira. Hidup di dunia hanya sekali, rugi kalau kupakai hanya untuk mengeluh.

Bismillah !:-)

Minggu pagi harus semangat

Minggu pagi harus semangat

 

4 komentar

  • info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba 🙂 , Aerilyn

    Suka

    • Hidup di dunia hanya sekali, rugi kalau kupakai hanya untuk mengeluh.

      Suka

  • Mantap pak..Gowes terus…

    Suka

    • salam sehat selalu 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s