Hidup Sehat

Sepedaan di Alun alun Solo

Hidup Sehat itu indah, sesuai dengan kalimat “Kekayaan yang nyata itu adalah kesehatan”. Kemarin seharian aku menikmati keindahan hidup ini dalam kesehatan teman-temanku dan kegembiraan teman-teman yang kutemui atau yang ngobrol denganku.

Diawali dengan jalan pagi menuju tempat parkir sepeda, aku sudah bertemu dengan tetangga di simpang jalan yang langsung menyapaku dengan penuh semangat, “PAGI!”, sapanya. Kusambut ucapannya dengan ucapan yang sama dan kuberi seulas senyum termanisku. Diapun ikut tersenyum manis dan berlalu dengan langkah ringannya.

Di depan langkahku kulihat serombongan kakek-kakek yang bercengkerama ria sambil memenuhi jalan karena memang jalan di komplek sangat sepi di waktu subuh usai. Mereka bercerita apa saja dengan riang gembira tanpa perlu membahas susahnya hidup ini. Di mata mereka hidup ini memang hanya senang dan sangat senang.

Sepanjang acara gowes pagi ini, aku juga menemukan keanehan yang membuat dunia menjadi terasa semakin indah. Biasanya jam 5:15 jalan MT Haryono sampai Semanggi selalu padat ramai, sehingga harus sering melakukan pengereman untuk menghindari sepeda motor yang tahu-tahu nyalip dan memotong jalanku.

Rabu, 15 Oktober 2014, jalanan begitu bersahabat bagi para pengendara sepeda di Jakarta bagian Cawang Semanggi. Jalanan hanya ramai di separo jalan, di bagian sisi kiri, tidak ada satupun yang lewat, sehingga pengendara sepeda bisa tancap pedal sekuatnya. Rute 26 km Cawang-Semanggi-HI-Monas-Senen dan Cawang hanya ditempuh dalam waktu satu jam. Wow keren banget pagi ini. Dunia ini rupanya sudah diawali dengan keindahan yang nyata di pagi ini.

Menjelang siang aku diajak rapat mendadak karena ada acara mendadak menjelang habisnya kontrak pak Djokir sebagai Menteri PU. Andai saja undangan rapat ini disampaikan tadi malam, pasti aku langsung menolaknya, karena agenda hari ini sudah penuh dengan agenda rapat yang sudah kita jadwalkan minggu lalu. Bertepatan ketika aku mengundurkan jadwal rapat, pas telpon di mejaku berdering mengajakku rapat mendadak.

“Siap!”, jawabku menerima undangan itu.

Usai rapat aku kembali ke ruanganku karena sudah ditunggu oleh rapat seri selanjutnya. Seorang lelaki sepuh, berumur 71 tahun, menyalamiku dan beramah tamah sebelum rapat dimulai. Pak Sabar dengan wajah sabarnya bercerita padaku tentang berbagai hal yang membuatnya menjadi semakin muda di usia senjanya itu.

“Saya itu sudah bau tanah mas Eko. Pak Djokir itu kakak angkatan, selisih satu tahun dan sekarang usianya pasti sudah 72 tahun karena aku baru 71 tahun. Jadi mari kita nikmati hidup ini dengan berbagi manfaat pada teman-teman seangkatan adikku, karena yang seangkatan dengan aku sudah banyak yang mendahului dipanggil”

“Dulu saya itu sering marah-marah, sehingga wajah saya jadi jelek, sekarang saatnya untuk jauh dari marah karena itu mengundang banyak penyakit”

“Saatnya kita mulai lebih rajin tersenyum”

Gowes Pagi bersama senyum manis

Gowes Pagi bersama senyum manis

Siang ini begitu indah dengan banyak nasehat nyata dari pak Sabar, meskipun disampaikan dengan cara yang sangat sederhana tanpa emosi yang meledak-ledak. Semuanya mengalir tenang dan lancar, semua petuahnyapun selesai dengan lembut diiringi sebuah senyum sederhana.

Malam menjelang tidur, kulihat notifikasi di FB dan kuketik kalimat pendek tentang dunia tulis menulis di internet. Ternyata sambutan teman-teman bersahutan bagai pasar “manuk” (burung), akupun terpancing untuk ikut berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya.

Pembahasan tentang dunia tulis menulis di dunia maya memang selalu menarik minatku, sehingga tanpa terasa badan ini seharusnya sudah diberi haknya untuk istirahat. Bila ingin Hidup Sehat, maka kita harus punya jadwal tidur sebelum jam 23.00 dan bangun sebelum subuh, begitu yang pernah kutulis dalam artikel “Pikiran, Tubuh dan Jiwa” di blog ini juga.

Aku juga pernah diberi pelajaran tentang perlunya mengatur waktu menulis dari seorang wanita hebat. Mbak Salsabela bilang,”kalau mau menulis jauhkan dulu sosial media dari pikiran kita dan dari tangan kita, maka tulsian akan lancar!”

Ups !

Akupun langsung membuat status di FB “Sadar Donk, jangan terlalu jadi babu gadget. Taruh dan tidur sekarang”.

Salam sehati, semoga hidup sehat menjadi salah satu tujuan kita agar lebih bisa beribadah padaNYA. Amin.

Hidup itu indah, yuk Rafting di Sungai Elo

Hidup itu indah, yuk Rafting di Sungai Elo

 

 

Pelatihan Mie Sehat 18 Oktober 2014

Mie Sehati Gramul Jogja

Pelatihan Mie Sehat 18 Oktober 2014 akan menjadi salah satu agenda kegiatanku di hari Sabtu minggu ini. Paginya, seperti biasa aku siapkan badan untuk melahap rute Warung Ijo untuk menikmati pisang godog  yang selalu diserbu goweser ketika mampir ke Warijo Pakem.

Sorenya, seusai pelatihan Mie Sehat alias Mie Sehati, ada kopdar dengan master tea internasional dari UGM, mas Bambang Laresolo. Kebetulan teman-teman bersepakat untuk menentukan waktu kopdar setelah Asar, sehingga acara kopdar “The Magic of tea” yang tadinya tabrakan dengan acara pelatihan Mie Sehati bisa berdiri di masing-masing waktu yang berbeda.

Lokasi kopdar “The Magic of tea” ini dekat dengan lokasi warung Mie Sehati Grha Mulia (Gramul), jadi seusai pelatihan Mie Sehati di Taman Kuliner, aku bisa mampir dulu ke Grha Mulia sambil menanti waktu sore. Seusai acara kopdar dengan master Tea, aku harus siap-siap menghadiri pernikahan keponakanku di Gedung Pamungkas. Lengkaplah acara Sabtu, 18 Oktober 2014 ini.

Biasanya para peserta pelatihan Mie Sehati sudah membaca blog Mie Sehati sebelum datang ke pelatihan. Mereka sudah membaca kisah pelatihan sebelumnya dan juga beberapa tips mengikuti pelatihan dan kegiatan apa yang dilakukan setelah pelatihan.

Sebelum pelatihan, mereka biasanya sudah mengunduh file resep Mie Sehati dan ketika pelatihan dimulai, mereka sudah memegang hard copy resep, sehingga acara pelatihan bisa lebih lancar. Meski begitu ada juga yang benar-benar datang ke pelatihan tanpa persiapan sama sekali, bahkan mereka datang bukan karena mendaftar, tetapi didaftarkan oleh seseorang. Sang pendaftar asli bisa teman, saudara atau yang tertarik belajar Mie Sehati tetapi terkendala waktu, sehingga mereka mengirim temannya untuk belajar dan kemudian mengajarkan kembali pada dia.

Di status FB instruktur Mie Sehati kubaca pesan :”Pelatihan mie sehati berikutnya 18 Oktober’14, jam 10.00-13.00 di Taman Kuliner Condong catur, Yogyakarta. Konfirmasi pendaftaran via sms ke 081908066333″. Biasanya SMS pendaftaran dilakukan ke nomor 08883087532, tapi kali ini rupanya ada nomor satu lagi yang dipakai yaitu nomor XL 081908066333.

Lokasi pelatihan yang nyaman sebenarnya ada di Warung baru Grha Mulia, tetapi lokasi ini masih belum seterkenal Taman Kuliner Condongcatur Sleman, sehingga lokasi pelatihan tetap memakai lokasi biasanya yang dekat dengan terminal angkutan di Depok Sleman. Lokasinya memang pas di belakang terminal, sehingga peserta pelatihan dari luar kota akan sangat gampang menemukannya.

Sampai saat ini peserta pelatihan memang sudah tersebar hampir ke seluruh Indonesia, mulai dari Daerah Istimewa Aceh, Medan, Bengkulu, Sampit, Balikpapan, sebagian besar kota di pulau Jawa bahkan sampai ke Papua. Untuk peserta dari Aceh, mereka datang ke pelatihan satu rombongan keluarga besar, sedang dari Papua mereka datang sekelompok dengan satu pemandu dari Papua dan satu pemandu dari Jogja.

Usaha warung Mie Sehati memang khusus buat mereka yang ingin belajar wirausaha secara instan, selesai pelatihan langsung bisa buka warung. Hanya dibutuhkan dana sekitar 3 juta rupiah untuk dapat memulai kegiatan tersebut, diluar biaya tempat.

Tempat jualan mie memang bisa dilakukan di depan teras rumah, di garasi atau di tempat sempit yang kita punyai. Bila sudah berkembang, maka tempat yang lebih layak bisa dipikirkan. Misalnya tempat yang lebih luas, lebih ramai atau lebih nyaman. Dengan demikian dalam proses awal itu kita bisa belajar dahulu bagaimana rasanya menjadi seorang wirausahawan kecil-kecilan.

Mie Mentah Sehati Hijau

Mie Mentah Sehati Hijau

Masalah pertama dalam dunia wirausaha, biasanya adalah masalah tenaga kerja. Saat usaha kita mulai memerlukan orang lain untuk ikut membantu, maka masalah tenaga kerja sudah mulai muncul. Masalah tenaga kerja, memang biasanya selalu muncul dalam berbagai usaha yang didirikan, entah itu usaha warung, usaha toko kelontong atau apapaun usaha yang memerlukan bantuan tenaga kerja lain.

Dalam pelatihan Mie Sehati topik ini kadang-kadang dibahas tuntas, kadang dibahas seadanya saja, karena passion masing-masing peserta sering berbeda. Ada yang datang hanya untuk belajar memasakkan keluarganya sebuah menu sehat yang tetap lezat sebagai pengganti makanan instan yang sering mereka konsumsi dan ada juga yang datang hanya untuk melengkapi menu yang mereka sudah jual.

Ada penjual mie yang sudah laris manis dagangannya tapi dia sendiri belum tahu bagaimana proses pembuatan mie dari sejak berbentuk tepung sampai berbentuk mie yang siap dihidang dan disantap. Ada juga yang datang dengan keluhan kalau anaknya sudah terbiasa makan makanan instan dan dia perlu mencari hidangan selingan agar tidak tiap hari memakan masakan yang sama.

Bagi yang tertarik pelatihan ini, silahkan langsung saja kontak sang instruktur, Ibu Yeni Rumiyaningtyas di nomor 081908066333. Cukup SMS nama lengkap dan alamat lengkap agar bisa dicatat dalam daftar peserta pelatihan.

Salam sehati.

Mie Sehati Gramul Jogja

Mie Sehati Gramul Jogja

Gowes Borobudur

Gowes Jogja Borobudur pp

Gowes Borobudur bagi masyarakat goweser Jogja ataupun Jawa Tengah adalah rute gowes yang umum dijalani, meskipun tidak semuanya sempat menjelajah sampai ke pelosok-pelosok. Bagi penggemar MTB (Mountain Bike), maka gowes ke Borobudur pasti penuh tantangan yang meningkatkan adrenalin. Mereka bisa berangkat dari mana saja dan lewat mana saja, karena semua jalan adalah sorga bagi penggemar sepeda MTB.

Akan berbeda ketika sepeda yang kita naiki adalah sepeda jenis RB (Road bike), perlu rute khusus dengan jalan mulus agar perjalanan menjadi indah. Untuk itulah sebagai goweser Jogja akhirnya aku ditugaskan untuk mencari rute yang tetap menantang meskipun peserta adalah goweser dengan sepeda RB.

Teman-teman goweserpun ramai mengusulkan berbagai macam rute yang eornah mereka lewati yang menurut mereka cocok untuk sepeda RB dan dengan tantangan yang tidak kalah asyiknya dibanding rute sepeda MTB. Usulan rute yang sampai ke pesan masukku, antara lain adalah sebagai berikut :

1. Berangkat lewat jalan Wates dan setelah melewati Kali Progo belok ke kanan arah Kalibawang dan kemudian langsung ke Borobudur. Pulangnya lewat mana saja pasti menarik.

2. Berangkat lewat jalan Palagan, jadi dari Tugu ke arah simpang empat Monjali, Palagan, Rejodani, Krasak dan blusukan menuju ke Borobudur dengan jalan aspal.

3. Berangkat lewat jalan Godean, belok kanan di Minggiran dan langsung Kalibawang, lanjut Borobudur.

Tiga usulan itu menarik untuk ditelusuri. Usulan pertama, berangkat via jalan Wates pernah kualami beberapa minggu lalu ketika aku pagi-pagi sehabis subuh meluncur melewati jalan itu. Jalanan sepi dan sangat menantang untuk semua pesepeda RB. Pasti sangat menantang, tapi pasti rute akan bertambah jaraknya jika memutar melewati jalan Wates. Dari sisi jarak pasti rute berangkat akan lebih dari 45 km, minimal 50 km kalau melewati jalan itu.

Rute ke dua melewati jalan Palagan, juga sangat menarik. Sepanjang jalan akan terasa angin desa yang sejuk segar dan menyehatkan, karena memang kendaraan bermotor di pagi hari belum banyak yang melewati jalan itu. Akupun memberi catatan tersendiri dari rute menarik ini. Catatanku adalah jalan yang nyaman baik dipakai berangkat atupun untuk rute pulang.

Rute ke tiga melalui Godean juga menarik, karena jalan Godean di kala pagi hari memang masih sepi. Akan sangat berbeda saat sudah terang tanah sampai sore hari. Jalan ini akan mulai memacetkan diri :-) Sepanjang jalan penuh dengan lalu lintas yang beradu cepat menuju kota jogja. Jadi kuberi catatan rute ini sebagai rute yang cocok untuk berangkat tapi tidak untuk pulang. Catatan ini mirip dengan catatan rute via jalan Wates, hanya cocok untuk berangkat.

Dari respon kawan-kawan goweser, nampaknya mereka menginginkan rute yang pulang pergi nyaman tapi harus ada tantangan di berangkatnya. Kucoba rangkum keinginan mereka menjadi sebuah catatan rute sebelum berangkat survey.

1. Jarak rute maksimal 90 km per hari, sehingga semua peserta pemula bisa merasakan “nikmatnya” gowes dan peserta expert tidak merasa terlalu ringan.

2. Rute berangkat dan rute pulang harus berbeda.

3. Harus ada variasi gowes, jangan hanya naik terus.

4. Harus melewati jalan yang segar udaranya, minimal seperempat jarak rute melewati lokasi itu.

5. Semangat audax harus disepakati semua anggota gowes,”Berangkat sama-sama, gowes sama-sama dan sampai sama-sama”, meskipun gowes kali ini bukan audax.

Dari rangkuman keinginan teman-teman di atas akupun berangkat survey ke Borobudur melewati jalan Godean menuju Nanggulan, belok kanan menuju Kalibawang lanjut Borobudur. Jaraknya pas 45 km di tempat sarapan ringan, yaitu di tempat 1.000 sepeda sewa Borobudur.

Pulangnya kuarahkan melalui jalan raya Magelang Jogja menuju ke Bronkos Karasak dan sarapan di lokasi itu. Warung Bronkos Krasak memang terkenal dan meskipun sudah poindah tetap dicari penggemarnya. Kelemahan lokasi warung ini adalah hanya enak menerima 20 orang saja. Lebih dari itu harus menggelar tikar di halaman warung, dengan catatan tikar bawa sendiri.

Dari Bronkos Krasak kuarahkan rute ke Pakem dan sampai di simpang Rejodani belok kiri menuju jalan Palagan, finish di Tugu Jogja. Pas bolak balik berjarak 90 km, sesuai permintaan para peserta gowes.

Ketika kusampaikan rute ini pada teman-temanku ternyata masih ada yang belum puas. Mereka sudah sangat puas dengan rute menantang Nanggulan Borobudur yang naik turun seperti saat mereka gowes di Belitung, tapi mereka merasa rute pulang melalui jalan raya adalah sesuatu yang harus dihindari.

Komplain ke dua adalah tentang warung Bronkos. Meskipun warung itu sangat legendaris, berdiri sejak tahun 1950, tapi jumlah kursinya tidak sebanding dengan jumlah pendaftar gowes yang sampai saat ini sudah lebih dari 40 goweser. Belum termasuk peserta di luar goweser. baik itu mekanik, istri goweser atau penggembira lainnya.

Gowes Jogja Borobudur pp

Gowes Jogja Borobudur pp

Akupun kembali melakukan survey ke Borobudur dan pulangnya mencoba blusukan. Ternyata memang lebih asyik kalau rute blusukan, tapi bagi peserta pemula pasti akan merasa berat. Jalan blusukan itu memang masih memerlukan energi ekstra untuk melewatinya, bahkan truk pasir yang menyalip saat nanjak saja harus gigi satu dan terseok-seok.

Kelihatannya rute yang disepakati adalah rute perdamaian, berangkat melalui Godean dengan rute menarik mulai dari Nanggulan ke Kalibawang (seperti gowes Belitung) dan kembali ke Jogja lewat jalan raya Magelang-Jogja.

Bismillah, semua peserta gowes 1 Muharram, Sabtu 26 Oktober, semoga sudah menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Kita ulangi kegembiraan di Belitung lagi.

Gowes Jogja Borobudur pp

Gowes Jogja Borobudur pp

Gowes Sehat

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

Gowes Sehat adalah tujuan semua goweser. Mereka tentu tidak mau sudah capek-capek gowes kesana kemari tapi yang didapat hanya capek tanpa manfaat. Gowes sehat juga harus menjauhkan diri dari kondisi yang tidak diinginkan, misalnya tiba-tiba tergeletak di tengah jalan ketika sedang asyik mengayuh sepeda. Biasanya hal itu terjadi karena sang goweser memaksakan diri untuk tetap mengayuh sepedanya meskipun kondisi badannya sebenarnya sudah mengharuskan dia berhenti mengayuh sepeda. Jantung memang bisa tiba-tiba berhenti bila terlalu kencang dalam memompa darah.

Batasan umum dalam bersepeda biasanya diambil gampangnya adalah di angka (220-umur) detak jantung per menit. Misalnya umur 50 tahun, maka detak jantung maksimal per menit adalah 220-50 atau sama dengan 170 detak per menit (BPM). Alat pengukur detak jantung (heart beat) bagi pesepeda misalnya adalah Garmin Forerunner 910xt. Dengan adanya alat itu, maka pesepeda akan bisa memantau berapa bpm (beat per minutes) detak jantungnya saat mengayuh sepeda, dengan demikian sepeda bisa dihentikan kayuhannya bila sudah melebihi batasan (220-umur).

Kawan Gowes Sehat Garmin Forerunner 920XT

Kawan Gowes Sehat Garmin Forerunner 920XT

Selama ini aku memang mengandalkan Garmin Forerunner 910xt untuk memantau berapa bpm detak jantungku. Meskipun badan masih terasa sanggup tapi kalau bpm sudah menunjukkan batasan angka maksimal, maka biasanya aku langsung turun dari sepeda. Yang pertama kulakukan adalah berhenti naik sepeda dan kemudian jalan kaki saja sambil menuntun sepeda. Ternyata metodeku ini salah, yang benar katanya berhenti saja dan diam beberapa detik sampai turun jumlah detak jantungnya, kalau detak jantung sudah mulai turun maka kita bisa naik sepeda lagi dan meneruskan olah raga sepeda kita.

Garmin Forerunner 910xt memang sangat ideal untuk membantu mengawasi detak jantung kita. Alat itu selain mencatat kecepatan sepeda, jarak tempuh juga bisa dipakai untuk mencatatat track rute kita bersepeda. Setelah selesai proses pencatatan, maka semua catatan itu akan bisa diunduh melalui Garmin connect melalui PC ke situs Garmin kita. Proses tarnsfer data ini dilakukan melalui USB khusus yang ditancapkan ke port USB di PC dengan catatan piranti garmin tidak terlalu jauh dari USB tersebut.

Garmin 02

Model paling baru dari Garmin Forerunner adalah seri 920xt. Beberapa kelebihan yang menggiurkan dari seri terbaru ini adalah adanya fitur komunikasi melalui Bluetooth. Dengan demikian semua data bisa langsung masuk ke ponsel kita tanpa melalui PC lagi. Cukup install Garmin Connect di ponsel kita dan komunikasi antar ponsel dan garmin akan lancar.

Garmin Forerunner 920XT

Garmin Forerunner 920XT

Kelebihan dari Garmin Forerunner 920xt dibanding seri terdahulu 910xt antara lain adalah sebagai berikut :

1. Memakai fitur komunikasi tanpa kabel (wireless) dengan bluetooth.

2. Lebih tipis dan lebih ringan.

3. Kualitas layar yang lebih bagus

4. Ada fitur GPS yang lebih sempurna

5. Estimasi VO2 maksimal

6. Tampilan lebih keren

Jam tangan forerunner 920xt memang punya dimensi dan bobot yang lebih kecil, sehingga lebih nyaman dipakai saat melakukan oleh raga lari, renang maupun bersepeda. Hal ini sesuai dengan fungsi jam ini yang bisa dipakai untuk atlit triathlon, baik yang profesional maupun yang masih pemula.

Layarnya juga mempunyai peningkatan yang cukup signifikan dibanding pendahulunya. Lebih carah dan tajam, sehingga lebih mudah terlihat meskipun di tempat yang tidak begitu terang. Bandingkan dengan seri terdahulu yang harus dilihat dibawah cahaya lampu.

VO Max di Garmin Forerunner 920XT

VO Max di Garmin Forerunner 920XT

Di Garmin Forerunner 920xt juga diberi fitur yang akan mengukur estimasi VO2 maksimal, sehingga bisa diketahui tingkat kebugaran sang atlit. Dari segala kelebihan di atas, maka tidak bisa dipungkiri bahwa forerunner 920xt memang terlihat lebih keren dan memang lebih canggih.

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

+++
Info harga Garmin Forerunner 910xt baru sekitar 5 juta, sedangkan untuk seri yang lebih baru adalah sebagai berikut :

Forerunner® 920XT

Part Number: 010-01174-00
$449.99 USD
Processing time is 3–5 weeks.

Kalau lihat harga rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika sampai 12.000 per dolar, maka harga jam ini menjadi lumayan mahal. Belum termasuk macam-macam pajak harganya sudah hampir 6 juta rupiah. Jadi kalau mau beli tunggu dulu sampai rupiah menguat lagi.
Salam sehati

Kuliner Solo

Soto gading

Kuliner Solo siapa sih tidak tahu? Hampir sebagian besar wisatawan, dari manapun, sangat mengenal kuliner Solo. Mulai dari nasi Liwet, Timlo, Tengkleng, Gudeg Ceker dan masih banyak lagi, semuanya sangat dikenal di luar kota Solo. Lalu apakah enak mampir di Solo sehari dan ingin mencoba semua kuliner itu?

Jawabnya pasti kekurangan hari. Perlu beberapa malam untuk menyelesaikan semua menu kuliner di Solo itu. Masalahnya waktu berkunjung ke Solo sudah sulit diperpanjang lagi, sehingga menu itu harus mulai diurutkan dari yang paling enak sampai ke yang paling tidak enak.

Mudahkan membuat skala prioritas ini ? Mudahkan mencari menu yang paling enak atau yang paling tidak enak?

Hanya Tuhan yang tahu betapa sulitnya membuat skala prioritas untuk kuliner di Solo. Semua menu terasa enak dan semuanya punya khas masing-masing. Akhirnya kuputuskan untuk mengurutkan prioritas dari warung yang paling lama tidak kukunjungi. Jadi menu Gudeg ceker langsung harus dicoret, karena baru beberapa bulan lalu aku menikmati gudeg ceker bersama mantan bintang bulu Tangkis Indonesia, Icuk Sugiarto. Dari sisi yang lain, menu Gudeg Ceker ini sebenarnya termasuk sangat favorit karena empuknya dan cita rasanya, tapi dengan berat hati harus kucoret.

Menu Tengkleng Mbak Diah juga langsung kucoret, karena ini adalah warung yang paling sering kudatangi, demikian juga nasib nasi liwet Wongso Lemu langsung dicoret dari daftar. Beberapa bulan lalu aku juga gowes malam (nite riding) dan ditutup dengan nyinden di Wongso Lemu.

Pagi hari sesampai di Solo, kita langsung bertemu untuk membahas menu makan siang dan makan malam. Semuanya sepakat makan siang di tempat yang bisa menemui sebagian besar menu di atas, malamnya baru menuju ke Gudeg Ceker 24 jam, bukan gudeg ceker setelah jam 24.

Gudeg Ceker setelah jam 24 memang top markotop, tapi rasanya kemalaman untuk bisa bangun pagi dan gowes besok paginya. Lalu muncul ide baru. Untuk supaya kuliner menjadi lebih nikmat, maka sebaiknya sebelum makan diadakan lagi sekedar sepedaan, sehingga saat sampai di lokasi kuliner perut dalam kondisi siap diberi apa saja. Dengan demikian, menu gudeg ceker setelah jam 24 menjadi semakin dicoret.

Kuliner Wongso Lemu

Kuliner Wongso Lemu

Jadi ingat nostalgia beberapa bulan lalu yang kelaparan malam-malam setelah sepedaan malam dan menghabiskan banyak model kuliner di Wongso Lemu. Mulai dari nasi liwet, minuman angsle, jajanan pasar sampai es puter. Semuanya licin tandas karena lapar dan karena menunggu antrian yang membuat perut terasa makin melilit.

Rencana yang sudah disusun rapi ini ternyata meleset. Salah satu kawanku sambil bergumam sempat bertanya,”Wongso Lemu itu warung apaan? Katanya enak ya?”

Kita semua langsung tertawa bergelak.

“Malam ini semua kuliner dicoret, kita menuju ke Wongso Lemu saja. Ada kawan kita yang belum pernah merasakan nikmatnya nasi liwet Wongso Lemu nih…”

Suasana malam di Wongso Lemu saat ini rupanya lebih tertib, lalu lintas lebih sepi dan pengamen ada tambahan sedikit, tapi pengamen langganan yang mengamen sambil berkendang dan berkebaya tetap ada di lokasi. Ketika dia mendekatiku sambil menyorongkan tempat sedekah, akupun menolaknya.

Sampeyan lenggah mawon, mangke bar nyinden monggo nek bade ngider
(Mbakyu duduk saja, kalau sudah nyanyi nanti silahkan mengedarkan kotaknya)

Mbakyu sinden rupanya mafhum dan duduk manis di samping kawanku dan mulai mengumandangkan suara emasnya. Lagu “Caping Gunung” disusul lagu-lagu lainnya terus mengalir sambil mengawani kita makan nasi liwet. Malampun menjadi terasa makin indah dalam hening malam ditimpali suara siter dan kendang.

Sepedaan di Alun alun Solo

Sepedaan di Alun alun Solo

Pagi hari sesudah selesai subuhan, kitapun bergerak lagi. Sekedar keliling kota sebelum akhirnya mampir di Soto Gading dan narsis di Alun-Alun Solo. Tanpa bersepeda, soto gading sudah terasa nikamt, apalagi ketika didahului dengan acara gowes, semua masakan jadi berlipat nikmatnya.

Soto gading baru buka

Soto gading baru buka

Acara siangnya kembali ke Jakarta, namun mampir dulu di Tengkleng mbak Diah. Kuliner ini sebenarnya sudah kita coret, tapi ada pesanan khusus untuk membawakan bungkusan Tengkleng mbak Diah, jadi sekalian saja kita makan siang disini. Risikonya harus dobagasikan, karena kalau diletakkan di bagasi cabin, maka saat diturunkan dari bagasi akan dilirik oleh sesama penumpang yang lain. Aromanya itu yang bikin semakin lapar.

Kapan ke Solo lagi ya? Mau mampir di rumah mas @Blontank ahli teh dari Solo. Kalau ahli teh dari Bogor kan mas Bambang lare Solo. Alumni UGM yang menikah dengan alumni NU (Non UGM).

Soto gading

Soto gading

+++

Kalau kuliner Jogja, silahkan klik di tautan ini.

Melepas Penat di Pantai Carita Banten

Lukisan Alam Senja di Pantai

“Melepas Penat di Pantai Carita Banten”

Rasanya terlalu banyak pantai di negeri ini yang memiliki pesona keindahan luar biasa. Banyak alasan yang melatarbelakangi kenapa banyak orang sering menghabiskan hari liburnya untuk berkunjung ke pantai. Salah satu alasan yang paling umum adalah agar dapat merelaksasi dan merefresh pikiran dari kejenuhan serta hiruk-pikuk pekerjaan selama ini. Sedangkan menurut saya sendiri, pantai adalah sebuah tempat dimana kita bisa menikmati keindahan alam yang telah diberikan oleh Tuhan kepada umatnya di muka bumi ini. Dengan berada di pantai saya sering merasa bahwa ada suatu kenyamanan tersendiri dan selalu ingin berlama-lama di sana.

Contohnya pada 1 tahun yang lalu ketika saya akhirnya dapat mengunjungi pantai Virgin Beach di Bali. Itu merupakan hal yang luar biasa karena saya mendapat hadiah dari Ayah atas prestasi di kampus. Maklum anak kampus kan bisa dibilang gak mungkin pergi ke Bali yang jauh lokasinya (karena faktor uang hehe). Semua tiket dibiayai oleh Ayah saya, dengan tiket pergi menggunakan maskapai Lion Air dan pulangnya ini yang asik karena saya dibelikan tiket Garuda Indonesia hehe. Walaupun itu sebenarnya hasil dari adanya tiket pesawat promo dan juga promo spesial kartu Visa dari Traveloka.com, tapi gak masalah buat saya. Yang penting bisa naik maskapai kebanggaan Indonesia, yaitu Garuda Indonesia untuk yang pertama kalinya hehe.

Lepas pengalaman asik itu, saya jadi ingin berkunjung ke pantai-pantai berikutnya. Dan pada kesempatan yang lalu, yaitu pada liburan akhir pekan di awal bulan April ini saya putuskan untuk menuju ke suatu pantai di bagian barat provinsi DKI Jakarta, yaitu pantai Carita di Banten (cari yang dekat agar biayanya lebih terjangkau hehe).

Hari itu saya berangkat pagi-pagi sekali dari Bogor menuju Depok untuk terlebih dahulu bertemu dengan teman-teman saya. Pergi ke suatu tempat yang baru memang lebih mengasyikan jika kita pergi secara berkelompok, selain dapat menghemat pengeluaran ongkos transportasi, perjalanan kita juga gak terasa membosankan karena kita bisa bersenda gurau selama perjalanan.

Dari Depok kami pergi menggunakan mobil carteran yang telah kami pesan sebelumnya. Perjalanan dari Depok menuju kabupaten Pandeglang membutuhkan waktu sekitar 6 jam lamanya. Cukup lama memang untuk sebuah perjalanan yang hanya berjarak Depok-Pandeglang. Hal ini mungkin disebabkan karena pas dengan momen libur nasional sehingga perjalanan saat itu cukup tersendat.

Sesampainya di sana kami harus terlebih dahulu membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000.-per orang. Pantai carita ini saya rasa sudah cukup baik dikelola oleh pemerintah setempat. Fasilitasnya sudah cukup lengkap dan memadai, dan salah satu yang langsung saya buru adalah saung-saung kecil yang menjajakan dagangannya kepada pengunjung pantai. Maklum, karena perut saya lapar sehingga saya memesan semangkuk bakso. Untuk harga yang dipatok di sebuah kawasan wisata, semangkuk bakso yang saya pesan dibanderol dengan harga Rp. 10.000, sedangkan minumnya es kelapa muda juga sama harganya. Menurut saya ini cukup murah dan terbilang wajar ya.

Pantai yang selalu indah kapanpun waktunya

Pantai yang selalu indah kapanpun waktunya

Setelah kenyang, baru saya bisa menjelajahi pantai ini. Jalan-jalan menyusuri pantai tanpa alas kaki pun menjadi pilihan saya. Meski matahari sedang bersinar cukup terik akan tetapi saya tetap ingin menikmati pemandangan yang indah di hadapan saya ini. Awalnya saya hanya berniat untuk menikmati pemandangannya saja, tetapi godaan dari teman-teman untuk bermain air membuat saya terpaksa ikut basah-basahan. Tidak hanya bermain air di pinggir pantai, kami pun tergoda untuk bermain water sport yang tersedia di pantai ini. Dengan membayar Rp 150.000, saya dan 4 teman saya pun memilih untuk bermain dengan menggunakan banana boat. Menikmati laut ketika kita di atas banana boat ternyata cukup mengasyikkan. Membiarkan angin dan percikan air menghempas wajah sembari melihat keagungan anak gunung Krakatau yang mengintip malu-malu di batas laut dan langit. Belum puas dengan banana boat, saya pun mencoba olahraga air lainnya, yaitu jetski. Untuk bermain jetski ini saya harus merogoh kocek sedikit lebih banyak yaitu sebesar Rp 250.000/15 menit. Tapi memang kepuasan yang didapat sepadanlah, walau Cuma 15 menit saja.

Lukisan Alam Senja di Pantai

Lukisan Alam Senja di Pantai

Hari mulai sore dan saat yang dinanti pun sebentar lagi akan tiba, Sunset. Yup, benar sekali saat yang paling saya tunggu-tunggu di sini adalah memanjakan mata melihat langit jingga dan matahari yang perlahan-lahan seakan tenggelam dibatas laut. Menikmati keindahan langit senja ini membuat saya lupa dengan rasa lelah yang sedang saya rasakan. Saya melihat ke arah lain dari matahari yang mulai tenggelam terlihat lukisan alam yang mempesona gunung anak Krakatau bertengger dengan gagahnya di atas permukaan laut.

Setelah puas menikmati senja dan mengambil beberapa gambar saya pun menuju kamar mandi untuk mambilas tubuh yang mulai lengket karena air laut. Sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di pasar rakyat. Di sana tersedia aksesoris, kerajinan tangan, cinderamata dan makanan lokal khas kabupaten Pandeglang, Banten. Saya cuma bisa beli beberapa makanan seperti emping, ikan asin, otak-otak, pakaian dan kain pantai.

Itulah sedikit cerita saya tentang pantai Carita di Banten. Bagi teman-teman yang ingin menikmati permainan air dan sunset pantai pasir putih, pantai Carita ini bisa jadi tempat tujuan destinasi liburan anda. Ga perlu jauh-jauh liburannya, yang penting kita bisa merefresh diri hehe. Selamat berlibur ya.

+++

Kontribusi dari penulis tamu mas Ardianto Wahyu <ardianto.wahyu1@gmail.com>

Kuliner Palembang

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Kalau bicara kuliner Palembang, maka yang terbersit di kepala kita pasti empek-empek. Inilah makanan khas Palembang yang sudah meraja lela ke berbagai kota besar dan pelosok-pelosok kota kecil. Hampir di setiap food court besar pasti ada stand untuk empek-empek. Dengan ditemani semangkuk kecil saus berwarna hitam kecoklat-coklatan, beberapa irisan kecil timun dan sedikit mie kuning, maka lengkaplah sajian di depan kita. Saus pedas itu saat ini sudah tidak sepedas dulu, bahkan ada yang mempunyai rasa lain, misalnya diberi nuansa manis.

Saus hitam kecoklatan ini dibuat dengan cara air didihkan, kemudian diberi sedikit gula merah, cabe rawit tumbuk, bawang putih, udang ebi dan garam. Rasa pedas diperlukan di campuran saus ini agar nafsu makan menjadi meningkat dan dua kapal selam empek-empek bisa dengan tenang masuk ke perut.

Makanan khas Palembang empek-empek, sebenarnya tidak bisa disebut makaan asli Palembang, karena hampir semua daerah di Sumatera Selatan menjadikan empek-empek sebagai kuliner andalannya, namun bila kita tanya setiap orang yang kita jumpai, maka kebanyakan mereka menyebut empek-empek adalah makanan khas Palembang.

Empek-empek ada'an

Empek-empek ada’an

Selain empek-empek, maka satu kuliner khas Palembang lagi adalah Mie Celor. Kita biasanya mengasosiasikan mie celor ini dengan mie telor, karena mie yang disajikan memang terlihat sembulan beberapa potong telor (biasanya dua potong). namun sebenarnya mie celor adalah bahasa Palembang yang artinya Mie Rebus. Khas dari Mie Celor adalah kuahnya yang tidak sama dengan mie rebus di daerah lain. Ada santan di Mie Celor Palembang. Rasanya ? Jangan ditanya lagi, pasti seporsi mie celor akan begitu leluasa memasuki perut kita.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Dua jenis kuliner inilah yang menurutku harus dinikmati setiap kita berwisata ke Palembang. Saat ini kalau mencari empek-empek, maka yang standard diburu adalah empek-empek Candy. Outletnya sangat banyak bertebaran di Palembang dan pelayanannya cukup cepat. Para penyajinya juga tidak pelit kalau diajak bicara tentang palembang.

Empek-empek bahan dasarnya terbuat dari ikan dan sagu. Kalau menurut si empunya cerita, ikan sebagai bahan dasar dari empek-empek muncul karena banyaknya tangkapan ikan yang hanya diolah dengan cara jadul yaitu digoreng atau dibakar. Ternyata setelah diolah menjadi empek-empek, maka rasa dan bentuknya lebih menarik. Berkembangnya jaman, akhirnya membuat empek-empek menjadi menu tersendiri seperti juga tekwan, laksan ataupun celimpungan yang berbahan dasar empek-empek tetapi dengan model pengolahan yang berbeda dan kombinasi yang berbeda juga.

Pendamping empek-empek disebut Cuko, dipercaya dapat melindungi kesehatan gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Ini disebabkan karena dalam setiap liter Cuko biasanya terdapat sekitar 9 sampai 13 ppm fluor yang berfungsi melindungi gigi dari karies.

Jenis pempek ada bermacam-macam, antara lain pempek kulit ikan, pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama “ada’an”), pempek telur kecil, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui) dan pempek keriting. Dari semua jenis empek-empek, maka yang paling terkenal adalah “pempek kapal selam”, bentuknya tidak mirip kapal selam, tapi begitulah mereka menyebutnya. Isi dari empek-empek kapal selam adalah telur ayam dan kemudian digoreng dalam minyak panas.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Bila bicara Mie Celor, maka siapapun yang ditanya jawaban pertama adalah Mie Celor 26 Ilir Palembang. Inilah warung khusus Mie Celor yang dikelola oleh H. Syafei Z. Mie Celor atau mie rebus dibuat dari mie biasa tetapi dengan kuah santan ditambah kaldu ebi dan taoge. Kalau belum terbiasa di warung itu, maka pasti kesan kumuh yang muncul duluan, tetpai kalau sudah masuk warungnya, maka kesan itu sudah berubah menjadi kesan lain.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Warung kecil itu penuh dengan penikmat Mie Celor dan sudah ramai sejak pagi, jadi kalau kita menginap di hotel, sebaiknya cukup makan buah dan minum air saja di hotel dan kemudian sarapannya di warung Mie Celor 26 Ilir H. Syafei Z ini. Harganya di tahun 2014 seporsinya 12 ribu rupiah. Cukup murah dan terjangkau kantong, namun disarankan cukup makan seporsi saja. Bila kita menambah porsi, maka bisa terjadi kelezatan porsi pertama akan tertutupi oleh kekenyangan di porsi ke dua.

Masih banyak kuliner di Palembang. Silahkan berburu lagi kuliner di Palembang, kata kuncinya hanya satu “Kuliner Palembang”, maka akan bermunculan berbagai macam jenis kuliner di Palembang.

Salam sehati.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

« Older Entries