Seli atau Heist

Heist 5 2016

Saat ini setelah bertahun-tahun bersepeda aku mulai rutin memakai satu jenis sepeda, padahal tadinya aku selalu bingung diantara “Seli atau Heist” atau RB (road bike) atau MTB (mountain bike) untuk acara bersepedaanku. Seli BF (bike friday) sudah makin nyaman dipakai setelah setangnya kuganti modelnya, tadinya “drop bar” sekarang jadi “flat bar”. Padahal tadinya aku paling tersiksa memakai BF, tapi setelah aku mengganti setangnya BF jadi nyaman sekali.

Kenikmatan memakai “flat bar” memang cocok dengan gaya bersepedaanku dan lokasi bersepedaanku. Setang lurus membuatku lebih nyaman mengendarai sepeda, meski mengorbankan kesenangan untuk bersepeda cepat. Lebih santai jadinya saat bersepeda dan yang paling kurasakan adalah saat melakukan pengereman terasa lebih mudah. Kawan komunitasku bersepeda memang menyayangkan ketika aku mengganti “droop bar”, karena memang harganya lumayan, tetapi kepuasan bersepeda memang tidak bisa diukur dengan duit.

Toh masih ada RB (road bike) yang tetap setia dengan “drop bar” untuk sekali-kali bersepeda cepat di jalan aspal mulus. Ketika jarak sudah tidak jadi masalah, maka menggunakan sepeda untuk bersepeda jarak jauh atau jarak dekat, memang terasa lebih nyaman tidak memakai “drop bar”. Di Jakarta yang lalu lintasnya sangat padat, mengendarai sepeda jenis touring yang tidak memakai “drop bar” terasa nyaman untuk melakukan manuver. Saat ini kuputuskan bersepeda di Jakarta memakai sepeda jenis touring dan di Jogja memakai seli saja.

Seli di Gelanggang Mahasiswa UGM

Seli di Gelanggang Mahasiswa UGM

Saat mengikuti acara seli #J150K komunitasku banyak yang ikut dan lolos bersepeda 150 km mengelilingi sudut kota jogja. Terbukti bahwa seli Bike Friday (BF) bisa untuk santai maupun untuk bersepeda jarak jauh. Di pos terakhir malah bisa “spint” dengan dua temanku yang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat masuk finish. Memang untuk acara bersepeda jarak jauh adalah cuaca dan pantan yang terasa panas. Tidak lupa aku juga selalu memakai asisten pribadi untuk melihat perkembanganku dalam berolah raga. Kali ini aku lebih tertarik memakai Garmin Edge 820 untuk asisten olah raga pribadiku.

Garmin Edge 820

Garmin Edge 820

Di Jakarta aku juga mulai lebih menikmati bersepeda memakai Polygon Heist dibanding sepeda merk atau jenis yang lain. Berbeda dengan sepeda Heist 5 yang kupakai menempuh Semarang Jogja via Klaten sejauh 140 km, kali ini sepeda Heist yang kupakai memakai asesoris original. Memang tidak bisa sekencang sepeda Heist dengan “fork” depan model ‘fixed”, aku tetap memakai “suspension fork” aslinya, sehingga bisa “mentul-mentul” di jalan tidak mulus.

Heist 5 2016

Heist 5 2016

Sepeda polygon Heist memang mempunyai penggemar tersendiri yang cukup setia. Beberapa penggemarnya membuat kelompok komunitas Sepeda Heist, mereka membicarakan tetek bengek asesoris yang diperlukan maupun “part” yang perlu ditingkatkan fungsinya. Aku ikut menyimak dan ikut pula memodifikasi sepedaku, tetapi pada akhirnya kembali pada selera asal. Memang sepeda Heist yang kumodifikasi berbah menjadi sepeda yang lebih cepat, karena tidak ada energi yang teredam (dengan memakai “rigid fork”) dan ban yang kupakai adalah type sepeda RB. Kekurangannya adalah fungsinya jadi berubah. Saat ini sepeda Heist bagiku adalah sepeda santai untuk jarak jauh dan segala medan, asal bukan medan ekstrem.

Jadi kalau disuruh memilih antara “Seli atau Heist”, aku pasti memilih keduanya. Seli kupakai di Jogja dan Heist kupakai di Jakarta. Kalu bersepeda di Jogja, kucari acara yang bisa kuikuti dengan memakai seli dan kalau di Jakarta kucari acara yang bisa memakai Heist. Untuk acara Herbalife yang harus memakai RB, aku memang tidak ikut atau ikut tapi tidak memakai Heist. Menempuh jarak 100 km dengan kecepatan rerata 26 kmJ atau bahkan 36 kmJ tentu tidak nyaman kalau memakai Heist.

Heist 5 2016 Monas

Heist 5 2016 Monas

Tulisan ini sebenarnya salah judul, sebenarnya judul yang betul harus “aple to aple”, kalau bicara seli berarti yang sepedan adalah dibandingkan dengan sepeda touring. Kalau bicara Heist sebaiknya ya dibandingkan dengan sepeda BF (bike fiday). Marilah kita nikmati tulisan salah judul ini.

 

 

9 komentar

  • Ping-balik: Libur adalah kerja | Blogger Goweser Jogja

  • sy pakai heist 4 mmng asyik spdanya. di jakarta komunitas heist ada dmn mas? ada nomr kontaknya? sy pingn gabung

    Disukai oleh 1 orang

    • di jakarta ada komunitasnya, tetapi saya sering terlewat waktunya, jadi belum pernah kumpul.
      Kalau mau kontak dengan saya bisa telp no (021) 8508520 atau bisa kontak via medsos @eshape 🙂

      WSKT ada kegiatan rutin tiap rabu dan Jumat, kalau minggu malah tidak tentu 🙂

      Kebetulan kalau minggu saya lebih sering tidak di jakarta ….

      Salam sehat mas @Razak

      Suka

  • Ping-balik: Menyongsong Gowes Solo | Blogger Goweser Jogja

  • Met kenal ya pak.. salam gowes

    Disukai oleh 1 orang

    • salam kenal kembali ya 🙂

      Suka

  • Ping-balik: Le Tour de Jogja | Blogger Goweser Jogja

  • Wah..jadi kepengen punya seli nih. Ternyata enak ya pak buat touring di atas 100km

    Disukai oleh 1 orang

    • betul masih enak juga dipakai jalan jauh, mungkin kalau untuk blusukan baru kurang “pas” 🙂
      pokoknya “kayuh pedalmu aku sehat !”

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s